Archive for Januari, 2008

Masuk Islam

Senin, 28 Januari 2008 ada peristiwa yang mengesankan. Setelah sholat dzhuhur di masjid Ukhuwah UI, sembari membaca qur’an saya melepas lelah. Tiba-tiba, terdengar suara dari speaker masjid bahwa lima menit lagi akan ada acara masuk Islam. What? Saya bingung…apa maksudnya acara tersebut? Eh, ternyata ada yang mau masuk Islam…I see…I se…

Selang beberapa waktu kemudian acara pun dimulai. Seorang ustadz ditemani dua orang saksi dan di depan mereka ada seorang perempuan kelahiran 1981 yang mengenakan mukena terlihat serius. Setelah memberi pengantar, sang ustadz bertanya kepada perempuan tadi, “apakah ada paksaan Anda masuk Islam?”. “Tidak ada”, jawab perempuan tadi. “Atau barang kali ada yang mengiming-imingi sesuatu atau karena mau menikah?”, lanjut ustadz. “Menikah sama siapa?”, timbal perempuan bernama Imelda tersebut. “Ya…barang kali ada”, sang ustadz menjawab. “Nggak, nggak ada paksaan. Saya masuk Islam karena tertarik aja sama Islam….” jelas Imelda.

Ya, di sisi lain ada sebagian manusia yang mempromosikan agama lain dan menjelekkan Islam dengan berbagai cara…ternyata ada juga yang menuruti fitrahnya menuju Islam yang mulia. Subhanalloh…Allohu akbar!!!

Pejuang tanpa keluh kesah

Lebaran kemarin, alhamdulillah saya bisa bersilaturahim dengan keluarga di kampung halaman. Waktu tersebut saya gunakan untuk bertemu teman, guru, dan tetangga yang memang jarang saya temui. Ya, paling satu kali setahun. Kalaupun saya pulang kampung waktu liburan kuliah,biasanya saya hanya berdiam diri di rumah atau paling-paling ke sekolah SMA silaturahim dengan guru dan adik kelas di rohis. Baca lebih lanjut

Madin dan Perjuangan Hidup seorang Petani

“Din, aku minta diberikan modal usaha dong..” pinta Madin, teman seperjuangan saya sewaktu di rohis SMU N 1 Brebes. Madin adalah sosok yang kalem dan rajin. Madin yang saya kenal merupakan teman yang jujur dan penuh semangat. Sewaktu berjuang bersama di rohis SMA, ia mampu menangggung beban yang lebih bertanggung jawab pada even-even organisasi. Ia aktivis rohis yang baik hati dan pandai bergaul dengan orang lain. Temannya tidak hanya orang-orang yang keluar masuk masjid alias aktivis lain, namun orang-orang yang sering bolos sampai yang berandalan menjadi kawan akrabnya. Baginya, membina hubungan baik dengan semua lapisan lebih membahagiakan daripada berteman dengan hanya satu lapisan saja. Selain di rohis, ia juga aktif di OSIS. Sebagai pengurus organisasi, ia mampu menjaga profesionalisme kerja. Pernah suatu ketika kami pulang bersama malam-malam hanya mengurusi masalah organisasi. Padahal, angkutan yang menuju ke rumah sudah tidak banyak yang beroperasi. Ia senang menjalani hidup seperti itu, yang terpenting baginya adalah orang lain tidak terdzalimi dengan keberadaannya. Baca lebih lanjut

Anak tukang Es bermental Juara

Namanya memang unik, Untung. Ya, dia anak seorang pedagang es keliling di sebuah desa di daerah Brebes. Ia satu SMA dengan saya dan di kelas 3, ia satu kelas dengan saya di III IPA 1. Sebagaimana siswa-siswi semester akhir SMA, ribut campur bingung mikirin kemana akan melanjutkan setelah tamat SMA. Ada yang mau ke kedokteran, jadi guru, dan lain-lain sampai ada yang mau nyari pekerjaan dan menikah punya anak, simpel he..he..he. Baca lebih lanjut

Apa Kata Orang Lain Tentang Anda

Banyak orang takut pada pendapat orang lain tentang diri mereka. Padahal, suka
atau tidak, orang lain pasti memiliki pendapat tentang diri anda. Dan, anda pun
takkan mampu menghentikannya. Sebaliknya, bila mau, boleh-boleh saja anda
membalas mengatakan sesuatu tentang orang lain. Sayangnya berbantah-bantahan
tentang hal ini tak selamanya menolong keadaan. Jadi, mengapa risau? Baca lebih lanjut

hermeneutika dan fundamentalisme

Ahad (9/12/2007) lalu, di Solo, seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta memberi saya sebuah buku berjudul “Is Religion Killing Us? (Membongkar Akar Kekerasan dalam Bibel dan al-Qur’an)”. Sudah cukup lama saya memiliki edisi bahasa Inggris buku karya Jack Nelson-Pallmeyer tersebut. Banyak hal bisa dikritisi dari isi buku ini, karena penulisnya sudah menggugat kesucian teks Al-Quran. Misalnya, penulis berkesimpulan, bahwa ”Masalah Islam yang identik dengan kekerasan tidak hanya sebatas adanya ketidaksesuaian teks-teks, tetapi berakar pada banyaknya ayat-ayat dalam Qur’an yang melegitimasi kekerasan, peperangan dan intoleransi.” (hal. 165). Baca lebih lanjut

resensi Al Qur’an Dihujat

Dewasa ini para penghujat al-Qur’an bukan hanya kalangan orientalis, tapi juga para sarjana dengan titel akademis yang tinggi dan berprofesi sebagai pengajar di perguruan-perguruan tinggi Islam. Biasanya para sarjana ini tidak langsung mengingkari keberadaan Al-Qur’an, tetapi mereka melakukan berbagai macam penafsiran yang melecehkan Al-Qur’an dan kemudian mengajarkannya kepada para mahasiswa dengan cara yang sistematis. Baca lebih lanjut