Renaissance Indonesia

Istilah renaissance bermakna kelahiran kembali atau kebangkitan kembali. Istilah ini mengacu kepada sejarah dunia Barat –khususnya Eropa dan memang berawal dari Eropa– sejak perioda abad ke-15 menurut satu sumber, atau abad ke-16 menurut sumber lain. Karena itu kita perlu menelusuri secara singkat sejarah Barat, dan kebangkitan tersebut tidak terlepas dari hubungan yang sedemikian lama antara dunia barat dengan dunia Timur.

Mungkin muncul pertanyaan, apa yang bangkit kembali atau lahir kembali?

Dalam sejarah dunia Barat dikenal dengan Zaman Kegelapan (Dark Ages) atau Abad Pertengahan (Middle Ages). Pada perioda tersebut segala prestasi kemanusiaan yang pernah dicapai dunia Barat rusak atau hilang. Dunia Barat mengalami perioda kemandegan terutama di bidang pemikiran akibat pengaruh gereja-negara yang sedemikian besar, dalam arti menindas. Segala faham atau pemikiran yang menyimpang dari dua lembaga tersebut dilarang, bahkan para pendukungnya yang masih bertahan diburu. Berbagai tuduhan diberikan semisal murtad, sesat atau bid’ah. Suasana macam ini jelas tidak memberi kesegaran untuk berfikir.

Umumnya orang menilai perioda suram tersebut bermula pada tahun 476, ketika Kerajaan Romawi Barat runtuh oleh serbuan bangsa Jerman yang waktu itu masih primitif. Kota Roma ditaklukan, warga ditangkap atau dibantai serta berbagai aset dijarah atau dirusak. Hal tersebut merupakan peristiwa yang memilukan bagi Barat karena pada zaman tersebut ada anggapan umum bahwa kerajaan runtuh berarti peradaban runtuh. Perioda ini dianggap berakhir pada tahun 1492, ketika itu kekuasaan kaum Muslim di Eropa Barat dapat dihapus oleh persekutuan Castilia-Aragon yang kelak membentuk Kerajaan Spanyol. Disamping itu, tahun tersebut diisi oleh peristiwa spektakuler Christoforus Columbus menemukan benua Amerika. Peristiwa tersebut agaknya perlu diteliti ulang, sesungguhnya Columbus hanya mencapai gugusan pulau di Laut Karibia, lepas pantai benua Amerika. Juga sesungguhnya sebelum Columbus sudah ada beberapa pelayaran menjangkau benua tersebut antara lain bangsa Arab, Berber dan konon Cina. Tetapi dampaknya tidak sedahsyat pelayaran Columbus.

Ketika Barat mengalami masa suram, dunia Timur masih bertahan menampilkan berbagai prestasi kemanusiaan yang telah ada sejak sekitar 5000 BC, ketika peradaban manusia pertama lahir di Timur. Sejak itu berbagai kerajaan dan peradaban tampil silih berganti memberi sumbangsih kepada kemanusiaan, termasuk ke dunia Barat.

Setelah sekian lama menyerap pengaruh Timur, Barat bangkit sekitar tahun 1000 BC di Yunani, kemudian diwarisi oleh Romawi. Pada perioda 1000 BC – 500 AD Barat boleh dibilang tampil imbang dengan Timur. Kemudian sebagai akibat Romawi Barat runtuh, sekitar perioda 500-1500 Timur kembali mengungguli Barat. Barat terpaksa belajar lagi kepada Timur untuk bangkit kembali. Perioda bangkit kembali itulah disebut Renaissance.

Pada abad ke-7 di Timur muncul suatu kekuatan sekaligus peradaban yang kelak memberi banyak sumbangsih bagi manusia tetapi sekaligus sering atau sengaja dilupakan, yaitu Islam. Dirintis oleh Nabi Muhammad SAW (570-632) di Arabia, setelah mengalami perjuangan pahit menyebar Islam dan mempersatukan Arab, terbentuklah umat baru dan negara baru yaitu Muslim.

Negara baru tersebut menghadapi masalah berat: terkepung oleh dua kekuatan raksasa (super power) saat itu di kawasan yang terbentang dari Afrika Utara hingga Asia Tengah, yaitu Kerajaan Romawi Timur (Bizantium) dan Kerajaan Persia (Sassanida) yang cenderung menindas sehingga rakyat mengharap kebebasan. Walaupun kedua negara tersebut mengalami perang yang menguras tenaga dan kebobrokan dalam negeri, agaknya masih tangguh dibanding Muslim.

Diawali oleh gangguan dua super power tersebut terhadap stabilitas Arabia, kaum Muslim bergerak ke luar Arabia melawan keduanya sekaligus. Singkat cerita, Persia dapat ditaklukan sepenuhnya dan Bizantium kehilangan banyak wilayahnya. Penaklukan relatif cepat tersebut sedikit banyak juga karena didukung oleh rakyat kedua negara tersebut. Gerak maju kaum Muslim tersebut menampilkan imperium baru yang membentang dari Iberia hingga Turkistan.

Kaum Muslim menaklukan wilayah yang sebagian besar telah berperadaban canggih dari warisan semisal Arabia, Mesir, Mesopotamia, Levant, Yunani, Romawi dan Persia. Wilayah sebelah timur berbatasan dengan Cina dan India sehingga kaum Muslim mengenal peradaban kedua bangsa tersebut. Selama perioda 700-1400 kaum Muslim menerima berbagai peradaban tersebut, mengolah dan memberi peradaban tersebut kepada Barat. Barat tidak punya pilihan kecuali menerima mengingat wilayah mereka berbatasan dengan imperium Muslim, walau hubungan Timur-Barat pada perioda tersebut sempat rusak oleh perang salib (1095-1291). Perang tersebut adalah usaha Barat untuk merebut kembali wilayah yang pernah dijajahnya, yaitu Afrika Utara dan Asia Barat. Juga dapat dianggap semacam cikal bakal perang kolonial yang kelak dikobarkan pada abad ke-16.

Dengan demikian sesungguhnya Renaissance yang kelak mengantar Barat mencapai kemajuan dalam berbagai bidang sebagian besar adalah proses belajar yang lama dari kaum Muslim, yang antara lain dari bangsa Arab, Persia, Kurdi, Berber dan Turki. Mereka bangkit melawan penindasan gereja-negara. Yang sangat menonjol dari gerakan tersebut adalah kelompok Protestan. Tak dapat disangkal, perubahan tersebut meminta waktu yang lama dan korban yang banyak. Hal tersebut kelak juga terjadi di Nusantara, walau tidak sepenuhnya mirip.

Ini perlu dijelaskan khususnya kepada siapapun yang kagum atau minder kepada Barat.

Kebangkitan kembali Barat juga mencakup penjelajahan dan penjajahan ke seantero dunia. Kemajuan teknologi hasil belajar yang lama semisal penciptaan senjata api, kompas, mesin cetak, kapal layar dan pemetaan membantu dan makin merangsang hasrat imperialisme, yaitu hasrat yang memang sudah ada sejak Barat masih primitif. Indonesia termasuk yang kena dampak itu, karena orang Barat sukses mencapai wilayah tersebut. Bahkan Indonesia adalah tujuan pokok imperialisme karena penghasil rempah-rempah. Hasil bumi tersebut sangat diperlukan Barat saat itu untuk bumbu dan mengawetkan bahan makanan.

Jika abad ke-16 merupakan awal kebangkitan Barat, justru bagi Indonesia adalah awal keruntuhan. Imperium Majapahit setelah sekian lama tampil dominan di Asia Tenggara, runtuh akibat konflik intern, beberapa wilayah taklukan memisahkan diri. Peristiwa tersebut juga sedikit banyak mempengaruhi perkembangan peradaban. Dan kedatangan bangsa Portugis dan disusul oleh bangsa-bangsa Barat lainnya sungguh tepat waktunya, Nusantara –bahkan Asia Tenggara– dalam proses perpecahan. Keruntuhan Majapahit dan kedatangan imperialisme Barat berakibat prestasi kemanusiaan yang pernah dicapai menjadi rusak atau hilang, mirip dengan nasib Barat pada abad ke-5 sebagaimana telah dijelaskan di atas. Pelan tapi pasti bangsa Indonesia bergerak menuju keterbelakangan. Mungkin perioda 1500 hingga kini layak disebut zaman jahiliyah.

ZAMAN JAHILIYAH DI NUSANTARA

Seiring dengan proses Majapahit runtuh dan imperialisme Barat hadir, di Nusantara muncul beberapa kerajaan yang bertekad memulihkan capaian prestasi yang pernah diraih sebelumnya. Aceh, Demak, Banten, Palembang, Mataram, Goa, Ternate dan Tidore adalah beberapa contoh. Negara-negara tersebut sempat meraih puncak kejayaan –mungkin setaraf dengan Renaissance Barat– tetapi relatif tidak lama. Satu demi satu beberapa negeri di seantero Nusantara ditaklukan imperialis Barat, sehingga tak banyak yang tersisa dari prestasi tersebut. Imperialis Barat banyak menghancurkan bukti fisiknya semisal beberapa bangunan di Aceh dan Banten.

Negara yang pertama ditaklukan adalah Kerajaan Malaka tahun 1511 oleh bangsa Portugis. Berulang-ulang usaha merebut kembali dilaksanakan tetapi gagal. Tahun berikutnya gerak maju mencapai Ambon di Kepulauan Maluku dan Timor di Kepulauan Sunda Kecil. Usaha menaklukan Jawa dapat digagalkan Demak.

Selain Portugis, imperialis yang datang berikutnya adalah Spanyol, Inggris dan Belanda. Kelak, setelah melalui peperangan dengan sesama Barat dan sekaligus pribumi, Belanda tampil dominan di Nusantara.

Perlawanan pribumi terhadap kolonial Belanda terjadi sejak awal kedatangan. Kedatangan pertama yang dipimpin Cornelis de Houtman di Banten hanya sebentar disambut ramah. Perilaku tidak sopan para tamu tersebut membuat marah pribumi dan muncul perlawanan. Perilaku tersebut bukan diperbaiki tetapi bahkan dilaksanakan pula di daerah lain, tentu saja kebencian dan perlawanan pula yang diterima.

Pada awalnya rakyat Nusantara memilih perlawanan militer, hal tersebut masih memungkinkan mengingat teknologi Barat dengan Nusantara masih boleh dibilang berimbang. Tetapi imperialis memiliki cara yang dikenal dengan istilah “sistem senjata sosial”, yaitu devide et impera (pecah belah dan jajah). Hal tersebut memungkinkan mengingat Nusantara terbagi-bagi dalam beberapa negara sebagaimana tersebut di atas. Pada waktu itu apa yang disebut “bangsa Indonesia” belum ada, yang ada ialah bangsa Aceh, bangsa Jawa, bangsa Sunda, bangsa Bugis, bangsa Papua, bangsa Ambon dan lain-lain. Dengan demikian sulit terbentuk front terpadu melawan imperialis. Hal tersebut berlangsung hingga masuk abad ke-20.

Seiring dengan banyak peperangan dan penaklukan, praktis peradaban tidak berkembang karena sebagian besar potensi terkuras untuk perang. Banyak kaum intelektual yang tewas, hilang, ditangkap atau diasingkan. Sekedar contoh akibat tersebut tadi, pada awal abad ke-20 sekitar 90 persen rakyat buta huruf.

Singkat cerita, mayoritas rakyat Indonesia nyaris gila menanti akhir tragedi kemanusiaan ini. Kapankah datang kebangkitan kembali yang akan memulihkan capaian kemanusiaan yang pernah diraih bangsa ini?

PERIODA PEMBENIHAN RENAISSANCE

Masuk abad ke-20 terasa muncul gejala kebangkitan Timur, padahal kebangkitan tersebut telah dicoba pada abad ke-18. Di Arabia, Muhammad bin ’Abdul Wahhab mengobarkan revolusi pemikiran agama berbentuk pemurnian pemahaman dan pengamalan Islam. Gerakan ini dikenal dengan sebutan “Wahhabi”.

Abad ke-19 tampil pula Jamaluddin al-Afghani mengobarkan revolusi pemikiran agama berbentuk pembaharuan pemahaman dan pengamalan Islam. Tetapi yang mungkin lebih spektakuler adalah kebangkitan Jepang yang dikenal dengan sebutan Restorasi Meiji. Dengan cepat Jepang menyerap pengaruh Barat tanpa perlu kehilangan kepribadian sendiri. Hasilnya, Jepang menang melawan imperialis Barat (yaitu Rusia) pada Perang Rusia-Jepang (1904-1905).

Kemenangan tersebut bergema di Barat dan di Timur. Sama-sama heran walau mungkin dari sudut pandang berbeda. Bagi orang Barat, mitos keunggulan ras Barat seakan runtuh. Bagi orang Timur, bangkit rasa percaya diri tampil di panggung dunia.

Indonesia kena pengaruh tersebut. Benih-benih Renaissance Indonesia muncul juga dalam bentuk reformasi dan revolusi pemikiran. Sebagai akibat dari kebangkitan Muslim dari Ibnu ‘Abdul Wahhab dan al-Afghani, terbentuk organisasi Jamiyyatul Khair pada 1901. Organisasi tersebut bergerak di bidang pendidikan. Mungkin terkesan kurang spektakuler, tetapi menampilkan orang yang spektakuler dalam arti intelek tentu harus melalui pendidikan. Dari situ akan tampil teknisi, politisi, ekonom dan lain-lain. Dan itu terbukti kelak, beberapa aktivis Jamiyyatul Khair menjadi aktivis parpol dan ormas semisal Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Muhammadiyyah. Jelas Jamiyyatul Khair menjadi tempat awal belajar berorganisasi.

Walaupun organisasi tersebut (Jamiyyatul Khair) dibentuk oleh orang Arab tetapi terbuka untuk orang lain, tentunya Muslim (kelompok mayoritas di Nusantara). Ini jelas lebih luas dibanding dengan Boedi Oetomo yang dibentuk pada 20 Mei 1908 sebagai akibat pengaruh kemenangan Jepang. Boedi Oetomo membatasi keanggotaan pada suku Jawa dan Madura, itupun yang elit. Anehnya, versi resmi sejarah nasional Indonesia sekian lama menetapkan pembentukan Boedi Oetomo sebagai Kebangkitan Nasional. Di mana letak nasionalnya kalau tertutup untuk suku selain Jawa-Madura dan tertutup untuk selain elit? Jelas organisasi tersebut bercorak lokal, bukan nasional. Bercorak elitis, bukan populis.

Ada lagi yang juga memerlukan penelitian ulang. Serikat Dagang Islam, cikal bakal PSII, menurut versi resmi dibentuk tahun 1911, tetapi versi lain menyebut 1905 yang berarti sebelum Boedi Oetomo dibentuk. Apakah tujuan menyusun sejarah versi resmi adalah untuk memperkecil atau menutupi peran kaum Muslim melawan imperialisme? Pada hemat penulis, sudah tiba waktunya untuk meneliti ulang seluruh penulisan sejarah versi resmi tersebut, termasuk kapan terjadi Kebangkitan Nasional.

Apa yang disebut Kebangkitan Nasional –terlepas dari masalah waktu dan pelaku pembentukannya– kelak akan menampilkan tiga kelompok utama yang mencoba menjadi pendukung Renaissance Indonesia yang saling bersaing menentukan arahnya, yaitu nasionalis, agamis dan komunis.

Benih-benih Renaissance juga muncul karena kebijakan baru Belanda. Akibat kecaman kaum humanis terhadap praktek penindasan dan penghisapan terhadap rakyat Hindia Belanda –sebutan untuk Nusantara atau Indonesia ketika itu– pemerintah Belanda menetapkan kebijakan yang disebut “eereschuld” atau “de etische politiek”. Dasar pemikirannya adalah Belanda sangat berhutang budi kepada Hindia Belanda, karena itu harus terwujud hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah fihak.

Kebijakan tersebut dimulai tahun 1901, berbagai perangkat dari Eropa datang ke Hindia Belanda. Pembangunan jalur rel, jalur aspal, jembatan, waduk, sekolah, rumah sakit dan sebagainya dilaksanakan. Berangsur-angsur anak-anak pribumi masuk lembaga pendidikan. Kelak dari kaum terdidik akan tampil aktivis kemerdekaan, suatu hal yang tak diharapkan rezim kolonial. Rezim ingin pribumi pandai melayani Belanda, bukan pandai memimpin Hindia Belanda.

Tetapi walau muncul resiko macam itu, suka tidak suka rezim harus melanjutkan kebijakan balas budi tersebut jika tidak ingin menuai kecaman atau dicap biadab. Pemikiran yang juga mungkin mendasari balas budi adalah “menjajah boleh saja, tetapi yang manusiawi dong”. Karena itulah pemberian kemerdekaan tidak termasuk di dalam kebijakan baru tersebut.

Yang lebih siap menerima perubahan tersebut adalah para elit tradisional terutama di Jawa semacam raden, bupati, kanjeng atau tumenggung. Dan Jawa adalah pusat pemerintahan serta berpenduduk terbanyak di Hindia Belanda. Adapun kelompok jelata semisal petani boleh dibilang tidak siap. Umumnya mereka cenderung enggan ikut dalam arus perubahan tersebut demi “mendapat sesuatu” dari rezim yang dinilai “asing” dan “kafir”, mengingat mereka cenderung berwawasan Islam atau animisme disamping mereka secara teknis tidak terdidik. Para elit di Jawa siap karena memiliki latar belakang status sosial “canggih”, sikap tradisional yang renggang terhadap Islam dan sering bergaul dengan orang Barat sehingga dekat dengan pengaruh Barat. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran seorang orientalis bernama Snouck Hurgronje bahwa pembaratan Hindia Belanda dapat dilaksanakan jika didukung oleh para elit karena faktor tersebut di atas. Dengan demikian tampil kelompok terpelajar arogan terhadap segala yang bercorak Islam atau Timur. Tak heran dalam diri mereka sepi dari kepedulian terhadap nasib bangsa yang notabene masih teguh memegang nilai-nilai tersebut di atas.

Sementara itu, rakyat Indonesia sampai pada suatu pendapat bahwa perlawanan militer tidak akan sukses, mengingat Belanda lebih dulu mengalami tahap kebangkitan berikut di dunia Barat setelah Renaissance yaitu Aufklarung termasuk menikmati hasil Revolusi Industri. Revolusi Industri menghasilkan kemajuan antara lain teknologi militer. Karena itulah perlawanan politik menjadi pilihan, dan hal tersebut perlu pendidikan. Karena itulah berangsur-angsur muncul lembaga pendidikan swasta di samping milik pemerintah. Milik swasta tersebut diberi dengan sebutan tidak enak wilde scholen (sekolah liar) oleh rezim kolonial. Kelak sekolah swasta tersebut menjadi cikal bakal sekolah modern, dengan kata lain turut mencerahkan pemikiran bangsa. Jamiyyatul Khair termasuk contohnya.

Lembaga pendidikan milik Muhammadiyyah adalah contoh lain. Organisasi tersebut dibentuk oleh KH Ahmad Dahlan (1868-1923) pada 18 November 1912. Dia berasal dari level elit keraton Yogya dalam hal agama yang lazim disebut “kauman”, tetapi dia dikenal sebagai sosok populis karena keberfihakan kepada rakyat. Dia terpengaruh oleh gerakan pemurnian Ibnu ‘Abdul Wahhab dan pembaharuan al-Afghani ketika berada di Makkah. Dia mencoba membawa kedua faham tersebut ke Hindia Belanda.

Pada awalnya dia masuk Boedi Oetomo tahun 1909, dia memperkenalkan faham kebangkitan tersebut di dalamnya. Kemudian atas desakan beberapa orang yang telah mengenal pemikirannya, dia membentuk organisasi sendiri.

Perkara kebangkitan berbentuk gerakan pemurnian di Nusantara sesungguhnya telah ada sebelum abad ke-20. Faham Wahhabi diperkirakan hadir sejak akhir abad ke-18 dan kemudian terbentuk gerakan Paderi di Minangkabau. Sebagaimana di Arabia, gerakan Paderi memilih cara revolusi yang berkembang menjadi Perang Paderi (1821-1837). Walaupun gerakan tersebut secara organisasi dapat ditumpas oleh kolonial dan anteknya, fahamnya hidup terus antara lain diwarisi Muhammadiyyah. Perang Diponegoro (1825-1830) atau disebut Belanda Java Oorlog (Perang Jawa) kemungkinan ada diilhami juga dari Arabia.

Tetapi Muhammadiyyah tidak memilih revolusi, bahkan mencoba menjaga jarak dengan politik. Fokusnya adalah pendidikan dan kesejahteraan sambil berda’wah melawan pengaruh Barat dan jahiliyah lokal.

Sama hal dengan gerakan-gerakan kebangkitan di manapun, pada awalnya Muhammadiyyah mendapat hambatan dari fihak-fihak yang merasa nyaman dengan tatanan lama. Muhammadiyyah mendapat hambatan dari pejabat, tokoh agama model lama, kelompok agamis yang menolak faham modernis. Faham pemurniannya mengecam berbagai praktek yang diyakini oleh orang shalih di Jawa sebagai praktek Islam sesungguhnya seperti maulud, selamatan dan haul. Kehadiran Muhammadiyyah dianggap mengancam kelestarian tradisi masyarakat sehingga menampilkan kebencian oleh kelompok agamis di Jawa.

Walau sempat mengalami kemunduran di Jawa, organisasi tersebut mendapat sambutan simpatik di Minangkabau. Daerah tersebut telah mengenal pemurnian dan pembaharuan sejak lama. Muhammadiyyah diperkenalkan ke Minangkabau oleh Haji ‘Abdul Malik Karim Amrullah alias Haji Rasul tahun 1925. Pada tahun 1938 Muhammadiyyah telah menyebar ke seluruh pulau utama Nusantara.

Layak diketahui bahwa sebagaimana gerakan Renaissance Barat, gerakan Renaissance Indonesia juga mendapat penindasan. Bedanya terletak pada pelaku penindasan, di Barat pelakunya boleh dibilang bangsa sendiri, yaitu persekongkolan gereja-negara. Tetapi di Indonesia lebih berat, pelaku penindasan bukan hanya elit pribumi tetapi juga bangsa asing. Mereka bersekongkol melestarikan suasana jahiliyah yang masih berlanjut hingga kini, walaupun kini secara fisik tidak ada kehadiran kolonialis asing. Dengan kemajuan teknologi, hubungan masih terjalin. Bahkan para antek imperialis mampu masuk ke pemerintahan Republik

Seiring pertambahan jumlah kaum intelek, bertambah pula organisasi. Awalnya berdasar kedaerahan atau kesukuan semisal Jong Java (1918), Jong Pasoendan (1914), Soematranen Bond (1918), Timorsch Verbond (1921) dan Kaoem Betawi (1923). Organisasi berdasar konsep identitas se Indonesia belum mendapat pendukung berarti.

Serikat Dagang Islam berubah nama menjadi Syarikat Islam. Di bawah pimpinan ‘Umar Said Tjokroaminoto (1882-1934) partai ini sempat meraih pengikut terbanyak untuk ukuran Hindia Belanda. Walaupun Jawa tetap menjadi pusat kegiatannya, organisasi tersebut menyebar ke luar Jawa.

Tjokroaminoto sesungguhnya tidak berlatar belakang agamis. Dia pernah menerima pendidikan kolonial di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandse Ambtenaaren), yaitu sekolah yang mengajar ilmu pemerintahan untuk pribumi. Dia bahkan sempat berdinas dalam pemerintahan. Dia mengundurkan diri dari dinas pemerintahan mungkin karena watak dasarnya yang populis, dia tak suka dengan para pejabat kolonial, pribumi maupun asing. Dengan cepat dia menjadi tokoh terkenal dalam SI. Kecepatan SI meraih banyak pengikut tidak terlepas dari kharisma Tjokroaminoto. Kadang dia dianggap sebagai tokoh masa depan yang dinanti-nanti tampil mewujudkan adil dan makmur dan menertibkan segala ketidakteraturan dunia. Sosok atau kepercayaan demikian ada pada tiap kelompok masyarakat di dunia. Di Jawa dikenal sebagai istilah “Ratu Adil”, bagi umat Islam dikenal sebutan “Imam Mahdi”, dan bagi umat Yahudi-Nashrani disebut “Messias”.

Pada awalnya SI tidak menentang rezim kolonial. Tetapi ketika meraih pengikut di pedesaan, berkobar kekerasan. Rakyat menganggap SI sebagai wadah bela diri terhadap tatanan kolonial yang dibenci itu. SI dianggap sebagai wadah solidaritas kelompok terhadap Cina, elit pribumi, orang Indo dan orang Barat. Kira-kira dengan urutan seperti itu. Di beberapa tempat SI menjadi pemerintahan bayangan atau tandingan sehingga aparat harus menyesuaikan diri. Gerakan boikot terhadap pedagang batik Cina di Surakarta dengan cepat menjadi tindak saling menghina antara Cina dengan pribumi dan berkembang menjadi kekerasan di sebagaian besar Jawa antara 1913-1914. SI lokal memegang peranan penting.

Kelompok lain yang ingin ikut mencerahkan pemikiran bangsa ini adalah komunis, padahal kelak terbukti bukan mencerahkan tapi menyesatkan. Komunisme dibawa masuk ke Indonesia oleh HFJ. Sneevliet (1883-1942) tahun 1913. Pada 1914 dia membentuk Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) di Surabaya. Pada awalnya hampir seluruh anggotanya berkebangsaan Belanda, tetapi partai ini bertekad meraih basis massa dari rakyat Indonesia.

ISDV menempuh cara licik, tidak mau bersusah payah merangkul rakyat yang belum berpartai untuk mendapat pengikut besar pertama. SI terpilih menjadi sasaran penggembosan karena partai tersebut adalah yang terbesar di Hindia Belanda ketika ISDV masih kecil. Inilah awal permusuhan antara kelompok agamis –khususnya Islamiyah– dengan jahiliyah komunisme di Nusantara. Agaknya ISDV menempuh strategi Iblis menggoda manusia. Mungkin tidak banyak tahu bahwa pada awalnya Iblis adalah makhluk yang sangat agamis, menjadi makhluk kepercayaan tuhan. Tetapi kemudian murtad karena kecewa dengan niat tuhan menciptakan manusia. Singkat cerita, Iblis bertekad menyesatkan manusia. Hal tersebut mirip dengan Sneevliet. Dia berlatar belakang agamis tetapi kemudian murtad menjadi komunis dan mengajak orang murtad juga. Mungkin dia juga kecewa dengan agama. Memang, komunisme dan beberapa faham sesat lain di Barat berasal usul dari rasa kecewa terhadap agama atau tokoh agama. Kelompok yang pertama dimurtadkan adalah para anggota SI, organisasi yang bercorak agamis.

Maka faham Iblis yang bernama komunisme disusupkan ke SI, hasilnya luar biasa. Dengan cepat ISDV mendapat banyak pengikut antara lain seorang tokoh SI cabang Semarang bernama Semaoen. Pada 23 Mei 1920 ISDV berubah nama menjadi Partai Komunis Hindia dan Semaoen terpilih menjadi ketua yang pertama. Dia berlatar belakang buruh kereta api dan menjadi anggota SI cabang Surabaya. Pada 1916 dia pindah ke Semarang, tempat Sneevliet aktif dalam Serikat Buruh Kereta Api dan Trem (Vereeniging Spoor en Tramweeg-personeel). Semaoen bergabung dengan ISDV sekaligus masih anggota SI. Kharisma Semaoen menghasilkan jumlah pengikut yang bertambah pesat bagi SI cabang Semarang. SI cabang ini pernah menentang niat SI masuk Volksraad (parlemen semu Hindia Belanda) dan menentang gigh kepemimpinan Centraal Sjarikat Islam (CSI). Sikap tersebut mendapat dukungan kuat, memaksa Tjokroaminoto mengecam “kapitalisme yang berdosa” yang jelas berarti mengecam modal asing tetapi dengan cerdik menghindar dari sikap mengecam modal yang dimiliki para haji dan ulama. Tapi perpecahan tetap tak terhindarkan.

SI terpecah menjadi SI Putih dan SI Merah. Tahun 1921 Tjokroaminoto melaksanakan disiplin partai sekaligus mengubah nama menjadi Partai Syarikat Islam (PSI). Anggota SI tidak boleh merangkap anggota organisasi lain. Penggembosan terjadi, SI Merah menjadi Partai Komunis Hindia dan tahun 1923 berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). SI Putih mempertegas corak Islamiyahnya. Kedua organisasi tersebut berjalan sendiri-sendiri.

Dalam beberapa hal komunis meniru cara yang lazim dilaksanakan kaum agamis, bahkan sedikit banyak menggunakan agama untuk meraih pengikut. Hal tersebut dipilih karena fakta yang tak dapat dibantah bahwa mayoritas rakyat masih menganggap perkara ruhani sebagai hal penting. Fakta tersebut jauh hari telah disadari oleh seorang tokoh PKI bernama Tan Malaka (1897-1949). Dia menentang penggembosan SI karena melemahkan gerakan Renaisance terutama anti imperialisme. Dia menolak anggapan Komintern (Komunis Internasional) yang telah menuduh gerakan Pan Islam adalah bentuk imperialisme. Tan Malaka menegaskan bahwa Pan Islam adalah gerakan anti imperialisme. Jauh-jauh hari dia menegaskan bahwa kelompok agamis harus dirangkul, bukan dibenci.

Ketika makin nyata perbedaan faham antara dia dengan rekan-rekan komunisnya, dia pilih bentuk partai sendiri yaitu PARI (Partai Republik Indonesia) dan ketika Revolusi 1945 dia membentuk Partai Murba.

Mungkin dengan malu-malu komunis melaksanakan pendapat Tan Malaka tersebut dan agaknya pendapat Tan Malaka benar. Maka muncul istilah aneh “Komunisme Islam” yang menunjukkan bahwa komunis tidak sepenuhnya bertahan dengan dogma aslinya yang menganggap “agama adalah candu”. Di Surakarta Haji Misbakh berceramah bahwa Islam dan komunisme adalah sama. Ceramah tersebut meraih simpati dan kerusuhan di pedesaan terjadi. Dia dikenal dengan sebutan “Haji Merah”. Di Banten sikap komunis mungkin lebih aneh: fanatik agama.

Kebencian terhadap imperialis dan anteknya, semangat yang dikobarkan oleh SI dan PKI serta faktor lain menyebabkan Revolusi 1926, perlawanan militer yang boleh dibilang sudah bercorak se Indonesia terhadap rezim kolonial dengan titik berat di Banten dan Minangkabau. Tetapi nasib baik masih memihak rezim kolonial, revolusi dapat ditumpas dengan relatif singkat.

Kelompok nasionalis adalah kelompok utama berikutnya yang ingin ikut mencerahkan pemikiran bangsa. Kelompok ini berfaham mencintai bangsa dan negeri se Nusantara, faham tersebut menganggap bahwa faham kesukuan dan kedaerahan sempit ruang lingkupnya. Kelompok ini membentuk beberapa partai tetapi yang sering dianggap dapat mewakilinya adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), partai ini dibentuk oleh Soekarno (1901-1970). Mengawali kiprah politiknya di Jong Java, Soekarno kemudian mendapat bimbingan dari Tjokroaminoto.

Soekarno membentuk PNI ketika pengaruh Tjokroaminoto pudar, demikian pula PSI. Penggembosan oleh PKI dan tekanan rezim kolonial terhadap aktivis kemerdekaan pasca Revolusi 1926 adalah penyebabnya. Dengan demikian boleh dibilang bahwa PNI yang mewakili kaum nasionalis mengambil alih kepemimpinan perlawanan terhadap kolonial yang sebelumnya dipegang oleh kaum agamis dan komunis. Dan untuk itu agaknya Soekarno siap mengambil resiko, resiko yang juga pernah diambil kaum agamis dan nasionalis yaitu minimal adalah penangkapan dan pengasingan.

Sebelum PNI tampil, sudah ada organisasi yang bercorak se Indonesia yaitu “Perhimpunan Indonesia” yang merupakan himpunan beberapa organisasi yang bercorak kedaerahan dan kesukuan. PI memiliki empat pokok pemikiran yaitu:

  1. Kesatuan nasional, rakyat se Nusantara harus menempatkan persatuan di atas corak kesukuan dan kedaerahan dalam meraih Indonesia yang merdeka dan satu. Jika persatuan terwujud, akan sulit bagi imperialis melaksanakan siasat devide et impera dan akan terbentuk perlawanan yang padu.
  2. Solidaritas, rakyat harus menyadari bahwa ada persamaan nasib dari ujung ke ujung Nusantara. Tanpa mengingkari ada perbedaan antar suku, sesungguhnya persamaannya lebih nyata dan hubungan antar suku di Nusantara telah berlangsung lama. Rakyat harus menyadari bahwa ada perbedaan yang lebih besar yaitu Nusantara dengan kolonialis Belanda semisal bahasa, warna kulit, adat dan agama. Perbedaan antara “kita di sini” dengan “mereka di sana” harus difahami dan ditegaskan sebagai kita adalah “Indonesia” atau “Timur” dan mereka adalah “Belanda” atau “Barat”.
  3. Tidak kerja sama, bahwa gerakan kemerdekaan harus menolak atau menjaga jarak dari segala bentuk kerja sama dengan kolonial. Kemerdekaan yang ingin diraih harus berdasar dari usaha sendiri dan bukan hadiah dari kolonial. Karena itu tidak perlu peduli dengan segala kebijakan dari Volksraad.
  4. Swadaya, gerakan harus berdasar pada kemampuan diri sendiri atau kepercayan pada diri sendiri. Perlu membentuk suatu tatanan alternatif atau tandingan dengan tatanan kolonial. Gerakan tidak berkenan dengan bentuk persekutuan dengan kolonial.

Usaha mempersatukan rakyat se Nusantara mencapai puncak dengan peristiwa yang disebut Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 1928. Walaupun tidak dihadiri semua kelompok pergerakan tetapi dapat dianggap mewakili se Nusantara. Sejak itu makin dimasyarakatkan pemakaian istilah Indonesia untuk wilayah Nusantara dan bangsa pribumi yang mukim di wilayah tersebut. Istilah Hindia Belanda dan inlander dihindari sedapat mungkin. Hal tersebut boleh dibilang sebagai langkah maju menuju Renaissance Indonesia. Mungkin boleh dibilang bahwa Sumpah Pemuda adalah hari lahir bangsa Indonesia, adapun yang disebut Aceh, Minang, Jawa, Sunda, Betawi, Madura, Bali, Dayak, Bugis, Minahasa, Papua, Ambon dan lain-lain tidak lagi disebut bangsa tetapi suku.

PERIODA PERTUMBUHAN RENAISSANCE

Gerakan Renaissance telah meraih kemajuan penting, melahirkan bangsa baru. Setelah meraih persatuan, berlanjut ke tahap pembebasan sambil menjaga persatuan. Proses pembebasan semakin mendekati tujuan tetapi semakin berat karena rakyat harus menanggung beban suatu perang terbesar yang pernah diciptakan manusia, yaitu Perang Dunia II (1 September 1939 – 2 September 1945). Perang yang sesungguhnya bukan urusan rakyat Indonesia itu, namun harus ditanggung akibatnya. Mengingat perang tersebut telanjur menyengsarakan rakyat, maka sedapat mungkin harus diambil apa saja yang mungkin bermanfaat dari perang tersebut. Apa saja peluang yang “disediakan” oleh perang?

Perang tersebut bermula dari serbuan pasukan Jerman ke Polandia. Sesungguhnya Polandia bukan negara besar, tetapi serbuan tersebut sanggup “membakar” dunia karena proses “pemanasan” sejak usai Perang Dunia I (1914-1918) seperti Nazi meraih kekuasaan di Jerman (1933) dan membangun angkatan perang, penaklukan Manchuria oleh Jepang (1931), Italia mencaplok Ethiopia (1935-1936) dan Albania (1939), Perang Cina-Jepang II (1937-1945), serta Jerman mencaplok Austria (1938) dan Cekoslovakia (1939).

Perang di Asia semula hanya terbatas di Cina, kemudian melebar ke sebagian Asia-Pasifik setelah pasukan udara Jepang menyerang pangkalan AS di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Pasukan Jepang hanya perlu waktu sekitar tiga bulan merebut Hindia Belanda.

Propaganda Jepang terbilang berani yaitu “Asia untuk orang Asia”, karena semboyan tersebut jelas membenturkan atau mempertentangkan Barat denganTimur mengingat sebagian besar dunia Timur dijajah oleh orang Barat. Dengan demikian Jepang mengobarkan semangat anti Barat, semangat yang sangat diperlukan untuk bangkit.

Jepang berusaha membuktikan bahwa orang Barat bukan ras unggul, khususnya menjelaskan bahwa orang Barat dapat dikalahkan. Walaupun kekejaman pendudukan Jepang juga berlaku bagi sesama orang Timur, agaknya semboyan tersebut dapat diterima dan kelak terbukti berguna bagi orang Timur termasuk Indonesia. Pencerahan pemikiran yang pahit.

Selain memberlakukan pengekangan yang lebih ketat dibanding Belanda, pendudukan Jepang juga memberi peluang untuk meraih simpati. Orang Indonesia diberi beberapa jabatan yang sebelumnya hanya untuk orang Barat, juga mendapat peluang lebih besar mendapat latihan militer. Para aktivis Renaissance mencoba menyusupkan propaganda anti Jepang ke dalam propaganda anti Barat pada setiap kesempatan. Perang Jepang melawan imperialis Barat harus berada dalam lingkup meraih kemerdekaan sendiri.

Semangat anti Jepang tetap muncul tanpa propaganda apapun, perilaku orang Jepang yang menindas menampilkan semangat itu. Perlawanan muncul antara lain di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Irian Barat. Walaupun perlawanan dapat ditumpas, minimal pada saat itu rakyat sadar bahwa untuk hidup layak sebagai manusia haruslah merdeka. Imperialisme Barat dan pendudukan Jepang jangan berlama-lama berlangsung. Bangsa Indonesia harus memiliki negara sendiri, mengatur diri sendiri.

Perang berubah arah menguntungkan Sekutu. Dengan banyak pertempuran dahsyat pasukan Sekutu merebut beberapa tempat yang dianggap perlu. Keadaan tersebut memaksa Perdana Menteri Kuniyaki Koiso memberi janji kemerdekaan kepada Indonesia. Beberapa kebebasan diberikan lagi berangsur-angsur seiring gerak maju Sekutu. Pembicaraan mengenai serba-serbi negara dilaksanakan dengan melibatkan para tokoh kemerdekaan. Organisasi Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk Jepang dan diisi oleh orang Indonesia.

Dalam dua organisasi tersebut terjadi perdebatan sengit antara kelompok agamis Islamiyah dengan kelompok nasionalis tentang dasar negara Indonesia merdeka. Hasil dari perdebatan tersebut adalah dasar negara “Pancasila”.

Kemerdekaan dari bangsa asing akhirnya diraih pada 17 Agustus 1945. Ini juga kemajuan penting gerakan Renaissance, melahirkan negara baru. Tetapi kekecewaan agaknya masih betah menyertai bangsa ini karena kelak terbukti bahwa rakyat masih harus mengalami penindasan dari para elit bangsa sendiri. Selain itu kehadiran kembali kolonialis Belanda untuk meraih bekas jajahannya tak lama setelah proklamasi kemerdekaan merupakan suatu penderitaan tersendiri. Bangsa ini dipaksa perang karena tidak punya pilihan, kolonialis mencoba kembali dengan militer yang masih lebih unggul dibanding Indonesia. Agresi Militer pertama (21 Juli 1947 – 4 Agustus 1947) dan Agresi Militer kedua (19 Desember 1948 – 6 Januari 1949) kembali minta korban rakyat. Gerakan Renaissance nyaris tertumpas.

Pendidikan militer oleh Jepang dan ambil alih aset yang dikuasai Jepang memungkinkan bangsa Indonesia melaksanakan perlawanan militer disamping perlawanan politik. Perlawanan perioda 1945-1950 dikenal dengan Revolusi 1945 memaksa kolonial Belanda melepas sebagian besar Hindia Belanda. Irian Barat masih dikuasai hingga 1963.

Perlawanan militer telah menampilkan angkatan perang yang relatif kuat tetapi juga kelak menjadi penghambat Renaissance. Hal ini sangat nyata pada perioda Orde Baru. Konon dengan berdasar pengalaman revolusi, militer mengembangkan suatu konsep yang dikenal dengan konsep “Dwifungsi”. Konsep tersebut menyebut fungsi militer tidak hanya sebagai kekuatan hankam tetapi juga sebagai kekuatan sospol. Dengan konsep tersebut pengaruh militer merambah ke segala bidang antara lain beberapa jabatan harus orang militer, militer –secara individu dan lembaga– terlibat bisnis. Dan sebagai kekuatan hankam menumpas gerakan Renaissance, bahkan dengan bantuan imperialis Barat.

Walaupun secara politik dan militer imperialisme Barat boleh dibilang tamat riwayatnya, tidak demikian halnya di bidang ekonomi dan norma. Kemajuan teknologi makin membantu kelestarian hubungan antara biang dengan antek, kerja sama melawan arus Renaissance semakin canggih.

Dalam penulisan sejarah resmi, militer mencoba menampilkan citra sebagai pemeran utama pembebas Republik dari ancaman kolonial. Sesungguhnya prestasi demikian sangat dilebih-lebihkan. Revolusi 1945 tidak hanya dilaksanakan oleh tentara pemerintah, ada banyak kelompok tentara swasta, dan tentara pemerintah sempat mengalami perpecahan.

Revolusi dengan perlawanan politik tidak kalah pentingnya, dan hal tersebut cenderung ditutupi dalam versi sejarah resmi. Usaha diplomasi mengundang simpati internasional terutama pendukung kuat Belanda yaitu AS. Belanda dipaksa untuk mengakhiri petualangan kolonialnya di Indonesia dan menyelesaikan konflik dengan perundingan.

Tetapi AS tidak meninggalkan Belanda begitu saja. Walaupun kecil, Belanda tetap dianggap bernilai bagi AS. Strategi AS adalah mencoba merangkul Indonesia dan Belanda sekaligus untuk melawan komunis.

Jika pada Perang Dunia II Indonesia harus menanggung beban perang antara Jepang dengan imperialisme Barat, maka selama beberapa tahun Indonesia harus menanggung beban Perang Dingin (1945-1991) yaitu antara blok kapitalis yang dipimpin AS dengan blok komunis yang dipimpin US, dua faham yang sesungguhnya berasal dari Barat. Pada hakikatnya Perang Dingin adalah perang antara dua kekuatan imperialis Barat untuk menguasai dunia, tanpa kecuali Indonesia. Tetapi sayang, rezim Soekarno membawa Indonesia terlibat Perang Dingin melawan AS dan rezim Soeharto membawa Indonesia terlibat Perang Dingin melawan US, terlepas dari bobot keterlibatan tersebut. Yang jelas, keterlibatan tersebut menjauhkan Indonesia dari tujuan Renaissance akibat potensi bangsa yang terkuras untuk perang tersebut atau tertindas demi kelestarian rezim tersebut. Beberapa peristiwa semisal Tanjung Priok (1984), Lampung (1989) dan Aceh adalah contohnya. Tidak jelas kapan potensi bangsa dapat terfokus penuh kepada tujuan Renaissance.

Ada satu hal yang perlu diketahui dari konflik yang membingungkan ini, ada gerakan Renaissance yang bersikap tegas melawan dengan kekuatan sendiri walau dengan resiko menciptakan banyak musuh yaitu Darul Islam (DI). Gerakan ini mencoba mewujudkan Indonesia merdeka berdasar Islami, lazim disebut “Negara Islam Indonesia” (NII). DI menolak keberfihakan kepada kekuatan non Muslim, kaum Muslim harus membentuk kekuatan sendiri sebagaimana pernah terjadi pada masa silam. DI mengambil contoh perioda Muhammad dan Khulafaur Rayidin (622-661) untuk konsep negara idealnya. Namun sayang, gerakan tersebut dapat ditumpas oleh imperialisme Barat dengan anteknya. Bahkan di antara antek tersebut terdapat tokoh-tokoh Renaissance, kebencian mereka terhadap DI ternyata melebihi kebencian terhadap imperialisme Barat. Ini sekaligus membuktikan bahwa gerakan Renaissance sudah diisi –bahkan mungkin sejak awal– oleh berbagai niat yang tidak murni, terlebih jika para aktivisnya menempati jabatan tertentu. Lupa akan tujuan perjuangan, itulah tantangan yang mungkin paling berat bagi gerakan Renaissance di Indonesia.

Rezim Soekarno telah menumpas gerakan Renaissance yang dianggap tidak sesuai dengan versinya semisal NII. Kebijakan tersebut dilanjutkan rezim Soeharto. Jumlah partai diciutkan, Dwifungsi ABRI dilaksanakan, berbagai LSM dikekang, perlawanan bersenjata ditumpas, praktek KKN dipelihara, yang dianggap oposan disingkirkan, adalah beberapa contoh kebijakan yang memusuhi gerakan Renaissance yang murni ingin membawa Indonesia meraih capaian kemanusiaan yang telah lama lepas. Seperti Soekarno, Soeharto punya versi sendiri tentang Renaissance.

Soeharto meraih kekuasaan melalui pertumpahan darah hebat, mungkin sekitar 1.500.000 orang tewas akibat peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Sejak 1959 Soekarno mencoba memperkokoh kekuasaannya melalui sistem yang dikenal dengan “Demokrasi Terpimpin” yang prakteknya berarti kediktatoran. Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia dibubarkan pada 1960 dengan dalih beberapa orangnya terlibat pemberontakan PRRI-Permesta (1958-1961), pemberontakan daerah melawan pusat karena daerah merasa dihisap dan diabaikan pusat. Selain itu pengaruh komunis makin merajalela ditambah sebab-sebab lain. Setelah pemberontakan ditumpas, beberapa tokoh masuk penjara.

Komunis makin memantapkan pengaruhnya, mereka sukses mempengaruhi Soekarno menjadi radikal. Setelah Irian Barat masuk Republik, Soekarno mengarahkan fokusnya ke Malaysia, yang waktu itu dalam proses dekolonisasi. Dia menilai bahwa proses tersebut terkesan masih mempertahankan kolonialisme. Muncul istilah “nekolim” (neo kolonialisme dan imperialisme). Singkat cerita, konflik terjadi antara Persemakmuran Inggris dengan Republik yang dikenal dengan “Konfrontasi” (1963-1966). Potensi Republik banyak terkuras konflik ini. Yang paling gembira dengan proyek ini praktis hanya komunis, TNI-AD kurang bergairah karena menilai bahwa Inggris adalah kekuatan lama di Asia Tenggra yang menuju proses “pelapukan”. Angkatan Darat lebih suka menyimak pada kekuatan-kekuatan yang baru muncul. Mereka lebih cemas kepada komunis ketimbang Inggris.

Apa yang dinamakan “Pemberontakan G30S PKI” memberi peluang kepada Soeharto –waktu itu berpangkat mayor jenderal– untuk tampil ke panggung. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan AS, Inggris dan Australia yang cemas dengan perkembangan komunisme di Asia Tenggara. Terlebih AS, negara ini terlibat perang saudara antara Vietnam Utara (komunis) dengan Vietnam Selatan (non komunis) yang disebut “Perang Vietnam” (1964-1975). Perang tersebut juga merembet ke negara tetangga yaitu Kamboja dan Laos, di kedua negara tersebut komunis juga berjuang meraih kekuasaan.

Dengan bantuan mereka, Soeharto menumpas pemberontakan tersebut dalam waktu relatif singkat. Jelas hal tersebut menggembirakan imperialis kapitalis, mereka tidak peduli dengan pelanggaran HAM yang terjadi. Yang banyak dibantai atau ditangkap bukan hanya kaum komunis, tetapi orang yang dicurigai komunis. Rezim Soekarno –yang dinilai sedikit banyak melindungi komunis– tumbang, rezim Soeharto datang. Bagi gerakan Renaissance hal tersebut cuma tukar pelaku kezhaliman. Indonesia cuma pindah kiblat dari imperialis komunis ke imperialis kapitalis.

Pada hakikatnya Indonesia telah dan masih menjadi lahan permainan perebutan pengaruh antara sesama kekuatan kontra Renaissance, tetapi jika menghadapi gerakan Renaissance mereka satu suara. Setelah gerakan Renaissance dikalahkan, sesama kontra Renaissance saling cekcok dan kompak lagi jika gerakan Renaissance muncul. Dengan demikian Indonesia jahiliyah lestari hingga kini.

Timor Timur adalah contoh di antara permainan tersebut di atas. Imperialis Barat yaitu Portugis tiba di pulau itu tahun 1512. Kehadiran imperialis Barat lain yaitu Belanda pada abad ke-17 memaksa Portugis berbagi rezeki di pulau tersebut. Caranya? Ya, dengan membagi pulau Timor . Timor Timur dijajah Portugis, Timor Barat dijajah Belanda. Bagi Indonesia, kedua kekuatan tersebut sama jahatnya dalam arti sama-sama imperialis, yang berarti menghambat gerakan Renaissance.

Perang Pasifik menghadirkan kekuatan kontra Renaissance lain yaitu Jepang. Sebagaimana wilayah Nusantara lain, Timor diduduki Jepang hingga 1945.

Usai Revolusi 1945 Timor Barat masuk Republik dan Timor Timur kembali dikuasai Portugal. Ketika proses dekolonisasi dilaksanakan di Timor Timur, terjadi kekacauan yang berkembang menjadi perang saudara. Portugal tidak sanggup menentramkannya dan memilih lari. Arus pengungsi membanjiri Indonesia.

Imperialis kapitalis yaitu AS dan Australia khawatir jika Timor Timur dikuasai komunis mengingat kelompok tersebut terbilang kuat. Mereka memberi restu tersembunyi kepada Soeharto untuk mencaplok pulau tersebut. Singkat cerita, wilayah tersebut “ditarik” ke Republik.

Pencaplokan tersebut tidak diakui PBB, PBB menetapkan wilayah tersebut sebagai wilayah sengketa.

Untuk meraih simpati, rezim Soeharto membangun daerah itu. Namun sekaligus tidak lupa melanggar HAM. Kejahatan tersebut praktis sekian lama terjadi nyaris tanpa hambatan. Ketika Perang Dingin usai dengan menampilkan imperialis kapitalis sebagai pemenang, rezim kapitalis menganggap komunis bukan lagi ancaman berat. Saat itu pula rezim Soeharto kurang memiliki arti penting lagi. Maka mulailah pencaplokan Timor Timur disebut-sebut keabsahannya dengan dalih ada pelanggaran HAM.

Rezim Soeharto tamat tidak terlepas dari rekayasa imperialis Barat. “Habis manis sepah dibuang” begitulah kira-kira nasib rezim tersebut. Revolusi 1998 terjadi dan rezim tumbang. Dengan tekanan imperialis yang tepat saatnya yaitu ketika Indonesia sedang bergolak, Timor Timur lepas pada tahun 1999 dan kemudian menjadi negara sendiri dengan nama Republik Demokratik Timor Leste pada 2002.

PENUTUP

Pada 21 Mei 1998 rezim Soeharto tumbang setelah bertahan 32 tahun. Muncul istilah “Orde Reformasi”, istilah “reformasi” jelas mengacu pada sejarah Renaissance di Barat karena yang berjuang membawa Barat kembali meraih capaian kemanusiaan –yang sekian lama terlepas– adalah aktivis reformis dan gerakan mereka kadang disebut “reformasi”. Untuk kesekian kalinya rakyat terbuai harapan dan kegembiraan karena pergantian rezim. Tetapi apakah pergantian tersebut membawa keadaan lebih baik?

Beberapa fakta menunjukkan bahwa untuk kesekian kali pula agaknya kekecewaan muncul. Indonesia makin jahiliyah. Praktek KKN dan pelanggaran HAM masih berlanjut, pengaruh imperialisme Barat tidak terhapus, orang makin rakus dengan jabatan karena faham “jabatan adalah nikmat, bukan amanat” masih lestari, praktek hukum jauh dari rasa keadilan dan berbagai kejahiliyahan lain.

Khusus mengenai imperialisme Barat, mereka tidak berniat berhenti sekarang. Wilayah luas, sumber daya kaya, letak strategis dan bangsa terbelakang menempatkan Indonesia sebagai harta berharga yang tak boleh dilepas begitu saja. Imperialisme dapat berubah bentuk dan dalih, jika tak dapat ditaklukan secara fisik, dikuasai secara mental bolehlah.

Konflik di Maluku pada Januari 1999 adalah contoh kasus pasca Soeharto di mana imperialisme Barat bermain. Imperialis Barat hadir di Maluku tahun 1512. Maluku adalah daerah yang termasuk banyak menghasilkan antek imperialis. Kolonial Belanda banyak merekrut pribumi dari Maluku dan daerah lain menjadi tentara kolonial yang lazim disebut “Koninklijke Nederlands Indische Leger” (KNIL). Umumnya KNIL terdiri dari pribumi antek kolonial, orang Barat dan Indo mengisinya dengan jabatan perwira. Ketika Revolusi 1945 usai sebagian mereka menetap di Belanda, ada yang dapat berbaur dan melupakan daerah asalnya tapi ada pula yang melanjutkan hasrat membentuk negara sendiri yaitu Republik Maluku Selatan (RMS).

RMS adalah negara yang diproklamirkan pada 25 April 1950 oleh Christiaan Robert Steven Soumokil. Gerakan tersebut ditumpas oleh Republik dan Soumokil dapat ditangkap, namun dilanjutkan oleh sekelompok orang Maluku di Belanda. Adapun yang berada di Indonesia melanjutkan gerakan tersebut secara sembunyi-sembunyi sambil menjalin hubungan dengan rekan di Belanda. Karena itu tak heran jika nama RMS disebut lagi ketika konflik di Maluku berkobar. Selain itu ada nama lain dari gerakan separatis tersebut yaitu Forum Kedaulatan Maluku. Konflik boleh dibilang berakhir tahun 2002 setelah minta korban relatif besar mengingat mereka dapat bantuan dari imperialis Barat.

Layak disayangkan, bahwa hal tersebut praktis kurang disadari oleh bangsa ini. Perjuangan Renaissance agaknya masih panjang dari tujuan.

2 responses to this post.

  1. Posted by UK on Januari 27, 2008 at 7:07 am

    Good.

    Balas

  2. Posted by battosai1 on Maret 14, 2008 at 5:18 pm

    wadu pengetahuan sejarahnya luar biasa abis, salut pokoknya. kapan nich reinasance dan revolusi total akan berjalan, cz sekarang masyarakat indo sulit untuk diajak berubah karena termakan opini media yang dikusai para penjajah imperilialis modern.
    infogue.com/masalah_sosial_budaya/renaissance_indonesia/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: