Anak tukang Es bermental Juara

Namanya memang unik, Untung. Ya, dia anak seorang pedagang es keliling di sebuah desa di daerah Brebes. Ia satu SMA dengan saya dan di kelas 3, ia satu kelas dengan saya di III IPA 1. Sebagaimana siswa-siswi semester akhir SMA, ribut campur bingung mikirin kemana akan melanjutkan setelah tamat SMA. Ada yang mau ke kedokteran, jadi guru, dan lain-lain sampai ada yang mau nyari pekerjaan dan menikah punya anak, simpel he..he..he.

Saat PMDK (Penelususran Minat dan Bakat, sebuah program dari PTN maupun PTS untuk menjaring mahasiswa baru tanpa test), teman-teman saya sibuk memilih-milih universitas yang akan menjadi tempat mereka belajar setelah mendapat pengumuman kelulusan. Waktu itu, ada PMDK dari UNEJ (Jember), UNINSULA, UNSOED, dan IPB. Beberapa orang memilih IPB karena biaya aplikasi PMDK, yang IPB menyebutnya USMI, tergolong lebih murah daripada universitas lainnya termasuk saya, Untung, dan beberapa lainnya. Setelah ke BK untuk mengambil formulir pendaftaran USMI, kami dan beberapa guru BK berdiskusi mengenai jurusan apa yang akan kami pilih. Saya memilih Kimia dan Biokimia, sedangkan Untung memillih statistika dan saya lupa satu lagi apa. Setelah beberapa hari berlalu, berkas pendaftaran pun mau dikumpulkan. Namun, tiba-tiba Untung mengundurkan diri karena alasan tidak punya biaya. Walaupun belum pasti diterima di IPB, kalau ia diterima di IPB walaupun tergolong biaya pendidikannya terjangkau, tidak berarti terjangkau untuk Untung, katanya. Ia lebih memilih melanjutkan ke sebuah sekolah kejuruan, Politeknik Gajah Tunggal. Alasannya cukup sederhana, ia mau kuliah, langsung kerja, masa depan bisa diramalkan dan yang penting gratis biaya pendidikan. Sebelum pengumuman kelulusan, saya dan beberapa teman diterima di IPB melalui jalur USMI. Setelah hiruk pikuk menunggu pengumuman kelulusan dan upaya teman-teman pascakelulusan termasuk mencari tempat kuliah, saya dengar Untung diterima di Politeknik Gajah Tunggal. Sungguh mengharukan dan sekaligus bangga. Bagi Untung, berita diterimanya di Politeknik tidak serta membahagiakannya. Ada satu masalah lagi, yakni biaya hidup. Beberapa guru yang simpati pun berusaha membantu semampunya. Akhir cerita, ada seorang dermawan yang mau membantu biaya kuliah dan hidup Untung sewaktu mencari ilmu di Politeknik. Beliau adalah Bpk Sudirman Said, orang yang sama yang berbaik hati membantu biaya pendidikan saya di IPB.

Waktu telah silih berganti. Setelah hampir lulus, ada cerita yang mengejutkan. Untung terlibat masalah dengan pihak Poltek Gajah Tunggal. Ceritanya sebagai berikut. Untung dan beberapa kawannya mengikuti lomba KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia) tahun 2005/6(?). Ia menjadi bendahara tim robot dari Poltek Gajah Tunggal. Babak penyisihan mereka lewati dengan mulus dan walaupun tidak sampai ke final, mereka mendapat uang pembinaan yang besarnya kira-kira 4 jutaan. Uang tersebut tidak mereka berikan kepada pihak Poltek GT, alasannya walaupun atas nama poltek GT namun dalam kenyataannya, sewaktu mempersiapkan dan membiayai sampai mereka lolos babak demi babak tidak ada dukungan yang signifikan dari pihak Poltek GT termasuk dana. Oleh karena itu, uang pembinaan yang mereka peroleh dibagikan kepada donatur mereka. Tidak lain dan tidak bukan kepada teman-teman mereka. Pihak Poltek GT tidak setuju dan mempermasalahkan hal tersebut. Lambat laun setelah melalu bebreapa proses pembicaraan, Poltek GT memberikan sanksi kepada dua orang, yakni Untung dan temannya (ketua tim) untuk diberhentikan sebagai mashasiswa. Serentak teman-temannya se kampus kaget dan berinisiatif untuk demo dan mogok kuliah menuntut keadilan…Dan akhir cerita, pihak yayasan membekukan tempat untung dan teman-temannya kuliah sampai waktu yang tidak ditentukan.

Kembali ke Untung, terasa punah sudah harapannya membahagiakan orang tuanya yang petani dan pedagang es keliling tersebut. Cita-citanya yang tinggi untuk menjadi orang bermanfaat bagi orang lain kandas….Namun tunggu dulu…semangatnya ternyata masih ada. Keinginannya berkarya menorehkan tinta emas prestasi ternyata tidak pernah padam. Ia kini kuliah di IMZ (Institut Manajemen Zakat), sebuah sekolah milik BAZNAS yang gratis dan maybe mempunyai masa depan cerah untuk peserta didiknya.

So, bagi saya Untung adalah teman yang mempunyai beribu pengalaman berharga dalam hidup. Tubuhnya yang kecil berbanding terbalik dengan semangat dan pengalamannya. Walaupun orang tuanya tidak mampu membiayai kuliahnya, Untung membuanyai tekad baja untuk mencari ilmu Alloh SWT. Sewaktu SMA, ia pernah menjadi delegasi Kabupaten untuk berlaga di Olimpiade Fisika. Di kelas, Untung merupakan siswa yang rajin dan pintar masalah berhitung dan logika. Dipadu dengan kelucuannya, Untung menjadi sosok teman yang dicari. Selamat berkarya saudaraku…semoga Alloh meridhoi perjuangan kita. Walaupun anak orang tak mampu, bukan berarti kita tidak mampu berprestasi. Kita memiliki kelebihan, anugerah dari Alloh SWT. “Barang siapa memilih jalan menuju ke majlis Ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalannya menuju ke surga”. Kami membuktikannya…

2 responses to this post.

  1. Posted by shintya on Mei 20, 2008 at 5:46 am

    Akyu salut banget ma mz.Untung…
    Seman9atnya 45 buan9etz….
    patut d cnt0h tu…!!!!
    go0d Luck yaccchhhh…..

    Balas

  2. hebat, jadi inget andrea hirata…

    salam kenal, sy iqbal, mhsiswa biokimia IPB, klo boleh tau, knapa suka biokimia?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: