Madin dan Perjuangan Hidup seorang Petani

“Din, aku minta diberikan modal usaha dong..” pinta Madin, teman seperjuangan saya sewaktu di rohis SMU N 1 Brebes. Madin adalah sosok yang kalem dan rajin. Madin yang saya kenal merupakan teman yang jujur dan penuh semangat. Sewaktu berjuang bersama di rohis SMA, ia mampu menangggung beban yang lebih bertanggung jawab pada even-even organisasi. Ia aktivis rohis yang baik hati dan pandai bergaul dengan orang lain. Temannya tidak hanya orang-orang yang keluar masuk masjid alias aktivis lain, namun orang-orang yang sering bolos sampai yang berandalan menjadi kawan akrabnya. Baginya, membina hubungan baik dengan semua lapisan lebih membahagiakan daripada berteman dengan hanya satu lapisan saja. Selain di rohis, ia juga aktif di OSIS. Sebagai pengurus organisasi, ia mampu menjaga profesionalisme kerja. Pernah suatu ketika kami pulang bersama malam-malam hanya mengurusi masalah organisasi. Padahal, angkutan yang menuju ke rumah sudah tidak banyak yang beroperasi. Ia senang menjalani hidup seperti itu, yang terpenting baginya adalah orang lain tidak terdzalimi dengan keberadaannya.

Sudah hampir empat tahun berlalu masa-masa di SMA yang penuh pergolakan jiwa muda. Selama itu juga, teman karib saya-Madin-bergulat dengan aplikasi pekerjaan, sawah, dan formulir pendaftaran perguruan tinggi. Sudah dua kali ia mencoba mengadu nasib mendaftar kuliah di STAN. Bagi kami, sekolah dengan ikatan dinas lebih menjanjikan masa depan yang cemerlang dan lebih dari itu, kami dapat melanjutkan studi tanpa biaya pendidikan yang mahal. Selama itu pula, Madin sibuk mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya yang petani di sebuah desa kecil. Beberapa ‘profesi perniagaan’ pernah ia geluti, mulai dari penjual mainan sampai makanan. Di rumah, ia juga membantu orang tuanya yang berprofesi sebagai petani. Ya, namanya juga petani…pekerjaan yang banyak mengandalkan fisik. Madin pun menjadi sosok yang tegar baik jasad maupun mental.

Ia tegar menghadapi suratan takdir yang belum juga membuatnya lebih baik secara finansial. Sekarang, setelah empat tahun berlalu ia tidak lagi mendambakan kuliah di perguruan tinggi. Yang ia inginkan adalah berkarya untuk masa depan keluarganya. Bagi seumuran saya, Madin telah menjadi sosok pejuang yang tangguh. Ia mampu bertahan menghalau berbagai cercaan dan hinaan dari orang lain tentang kisah anak sekolah tinggi (SMA, maklum di daerah kami termasuk status sekolah yang tinggi), namun belum mendapatkan pekerjaan. Ia mampu menepis omongan orang yang mencoba menyurutkan langkahnya mengukir prestasi di manapun berada.

Kalimat terakhir yang saya ingat sewaktu kemarin bertemu untuk silaturahim ialah meminta saya menyediakan modal kalau ada, untuk berwira usaha. Ia dan temannya satu desa akan memproduksi jamur. Namun, untuk itu ia perlu modal yang tidak sedikit. Madin..oh madin, melalui sorot matanya yang berkaca memnandakan bahwa ia seorang yang tangguh menghadapi segala cobaan hidup. Semoga berhasil mencapai cita-citamu….saya nantikan saat-saat bersilaturahim dan bercerita tentang pengalaman kita, kesuksesan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: