Pejuang tanpa keluh kesah

Lebaran kemarin, alhamdulillah saya bisa bersilaturahim dengan keluarga di kampung halaman. Waktu tersebut saya gunakan untuk bertemu teman, guru, dan tetangga yang memang jarang saya temui. Ya, paling satu kali setahun. Kalaupun saya pulang kampung waktu liburan kuliah,biasanya saya hanya berdiam diri di rumah atau paling-paling ke sekolah SMA silaturahim dengan guru dan adik kelas di rohis.

Suatu saat di hari lebaran, ada satu teman saya yang berkunjung ke rumah. Ia adalah teman saya waktu SD, SMP, dan di satu group musik rebana di kampung. Ia bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya di perantauan. Bagai saya, ialah sumber inspirasi hidup. Betapa tidak, sehabis SMP ia ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Ia ingin melanjutkan ke STM, maklum bayangan orang-orang di desa dan kebanyakan temen di sana kalau pengin cepat kerja ya di STM aja. Pertama ia mendaftar ke STM (SMK) Negeri, namun ternyata Alloh belum mengizinkan. Setelah perjuangan yang cukup panjang, akhirnya ia diterima di jurusan mesin di sebuah SMK swasta di daerah kelahiran.
Setelah tiga tahun berjibaku dengan buku dan praktikum mesin, ia lulus dengan hasil yang cukup baik. Pada tahun yang sama, saya juga lulus dari SMA dengan hasil yang cukup baik pula dan melanjutkan ke sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor, yakni IPB. Suatu saat, saya mendengar teman saya tersebut merantau ke Jakarta dan mencari pekerjaan mulai dari berdagang (ikut dengan ayahnya) sampai ke sana kemari mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmunya sewaktu di SMK. Walhasil, iapun diterima di sebuah perusahaan pembuat spareparts motor. Satu tahun berlalu, lebaran pun alhamdulillah kembali kami temui. Di hari yang fitri, 1 syawal kami bersilaturahim dan bercerita tentang pengalaman selama satu tahun yang telah berlalu. Ia bercerita tentang pengalamannya sewaktu di tanah perantauan. Ia bilang ingin sekali kuliah. Dari penghasilannya sebagai karyawan pabrik spareparts tersebut, ia tabung utnuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta. Alhamdulillah ia diterima di jurusan teknik informasi, ya sebuah jurusan yang berkaitan dengan komputer lah, tukas ia menjelaskan pengalaman pertamanya tersebut.

Sungguh, dalam hati saya sangat kagum sekaligus haru. Betapa ingin teman saya kuliah sampai harus bekerja. Tidak tangung-tanggung, pekerjaan teman saya tersebut membutuhkan kesiapan fisik dan stamina yang senantiasa harus fit. Ia pernah bilang, ia bekerja shift-shiftan. Kadang ia berangkat malam pulang pagi dan sebaliknya. Di sela-sela pekerjaannya tersebut ia gunkanan untuk kuliah. Ya, sekali-kali kalau jadwal bentrok sewaktu ia dapat shift yang bertabrakan dengan jadwal kuliah boloslah jalan keluar yang ditempuh. Namun, dosennya sudah mengetahui jadi tidak terlalu dipermasalahkan. Kadang ia mengeluh merasa kecapean. Pulang kerja jam 10-11 malam terus istirahat sejenak dan belajar materi perkuliahan. Paginya, ia harus kuliah. Setelah itu, panggilan jihad pekerjaan ia harus menyambutnya. Wuih, sungguh capek. Namun, apabila ia tidak seperti itu bagaimana bisa kuliah??

Pernah orang tuanya bertanya-tanya, koq bekerja gak menghasilkan banyak uang. Maklumlah, di desa kami kalau bekerja walaupun sedikit diasumsikan ada uang untuk diberikan kepada orang tua. Orang tua dan keluarganya yang lain tidak mengetahui bahwa ia melanjutkan kuliah. Setelah diselidiki dan ditanya langsung ke teman saya, akhirnya orang tuanya mengetahui bahwa anaknya tersebut melanjutkan sekolah lagi. Ya, mau diapain lagi. Toh sudah terjadi, sebagai orang tua hanya bisa mendukung namun jangan berharap ada bantuan uang untuk membiayai hidup di perantauan apalagi biaya kuliah. Begitu kurang lebih terang teman saya sewaktu menceritakan pengalamannya ditanya orang tua dan keluarga. Ya ga apa-apa sih, jelasnya. Tidak berhenti begitu saja pengalaman teman saya tersebut.Walaupun orang tua dan keluarganya sudah ‘merelakan’ ia kuliah, ternyata omongan tetangga yang mengetahui ia kuliah tak pernah berhenti. Wah, anak melarat koq kuliah. Daripada kuliah mending cari kerja dan enjoy dengan pekerjaan biar menghasilkan uang yang banyak, nikah, lalu menyenangkan orang tua. Namun, gunjingan dari tetangganya tersebut tidak digubris. Ia tetap saja kuliah sambil bekerja. Tidak peduli apa kata orang lain, yang penting ketika ada kemauan di situ pasti Alloh SWT membukakan jalan selebar-lebarnya. Sampai saat saya membuat tulisan ini, ia sudah semester 5, 1 tahun di bawah saya. Maklum, absen 1 tahun untuk mengumpulkan biaya kuliah.

Oh saudaraku, engkau adalah pejuang yang patut diancungkan jempol. You are the great hero…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: