Archive for Februari, 2008

The Road To Laptop

“Dunia ini hanya tempat persinggahan. Karenanya, berbuatlah yang terbaik untuk hidupmu. Beramalah yang banyak untuk akhiratmu”

Panggil saja namanya syamil. Ya, mahasiswa yang sekarang tingkat akhir kuliah di sebuah perguruan tinggi itu bertutur tentang perjalanannya membeli laptop. Cerita itu dimulai sejak ia tingkat II. Saat itu, ia mulai merasakan pentingnya memiliki komputer. Sebelumnya ia tidak mau membeli komputer, karena memang belum membutuhkan. Pekerjaan tugas kuliah dapat dilakukan dengan komputer asrama tempatnya tinggal. Namun, di tingkat II, tugas-tugas yang semakin banyak seperti laporan, makalah, dan tugas organisasi membuatnya berfikir ulang. Ditambah lagi komputer asrama yang sering hang, banyak virus, dan lemodnya minta ampun karena masih pentium II. Terlebih pada masa-masa itu, penghuni di asrama tempat ia tinggal banyak yang memakai komputer untuk menyelesaikan tugas kuliah rutin, skripsi, dan pekerjaan lainnya. Sampai-sampai, untuk memakai komputer harus booking dulu alias take lebih awal. ” Di depan komputer di kasih papan pengumuman, ‘komputer ini mau dipake Syamil untuk ngerjain tugas. Please, tolong ya…cz besok mau dikumpulin'”, tuturnya sambil tertawa mengenang lucu. Baca lebih lanjut

Seni Menghadapi Ujian (1)

Cerita ini terjadi saat penyambutan mahasiswa baru 2 tahunan lalu. Hari-hari itu adalah hari yang sibuk karena menjelang hari pelaksanaan penyambutan. Mulai rapat, persiapan teknis, sampai brifing pra-pelaksanaan intensif dilakukan saat itu. Pukul 9 malam teman-teman panitia wanita sudah pulang ke kost-an masing-masing, sedangkan panitia laki-laki tetap di tempat melanjutkan persiapan untuk acara penyambutan yang sebentar lagi akan dilakukan. Persiapan tersebut sampai pkl 11-an malam. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan teman, saya langsung pulang ke kost. Jarak kost saya dengan tempat itu sekitar 1 jam perjalanan dengan naik angkot.. Ya, cukup jauh dan memang saya yang paling jauh tempat tinggalnya. Baca lebih lanjut

Beda Netral dan Bebas

Entah, hari kemarin saya bingung. Sebenarnya, apa beda ‘bebas’ dan ‘netral’. Sekilas memang beda, dari kata, jumlah karakter, and so on lah. Namun, bagaimana entitas dalam realitanya?

Pikiran ini mulai menginfiltrasi memori saya ketika membaca sebuah artikel tentang kebebasan pers. Lalu, saya kaitkan dengan konteks kekinian tentang sepak terjang dunia pers. So, benarkah ada yang netral atau bebas di dunia ini? Ok, saya perjelas pembahasan di sini mengerucut pada konteks media massa. Baca lebih lanjut

Sekali lagi, aku menangis…

Hari ini, Rabu 20 Februari 2008 tak terasa air mata ini bercucuran. Entah, apa yang menjadi sebab. Mata ini tak pernah mau kompromi dengan yang satu ini. Tetes demi tetes membasahi pipi yang tlah sekian lama kering terkena dinginnya udara kota Bogor. Hh…, nafasku berdesah menguntai kata yang tak jelas terdengar telinga. “Ya Robb, berikanlah kekuatan kepada mereka yang beriltizam di jalan-Mu”.

Mata ini tertuju pada orang tua pengantar wisuda anaknya. Di lihat dari pakaian, mereka adalah orang biasa. Ya, mungkin dari daerah nun jauh di sana. Sang bapak dengan celana hitam berpakaian batik lusuh tampak beristirahat di beranda masjid kampus. Sang Ibu, dengan kain batik berkerudung putih itu terlihat sedang mengamati pemandangan sekitar masjid. Guratan kulit pertanda usia sudah menganjak tua terukir di wajah mereka. Mereka tengah kagum dengan ciptaan Alloh SWT.

Anganku perlahan melanglang ke orang tua di rumah. Andaikan orang tua itu adalah orang tuaku? Bagaimana? Ya Alloh, tak terasa tangisku semakin menjadi. Orang tua di beranda masjid itu tak jauh berbeda dengan orang tuaku. Bagaimana keadaan orang tuaku di daerah sana? Apakah sekarang tengah bergelut dengan cangkulnya di sawah? Ataukah tengah berbaring, besandar di bawah pohon setelah bekerja membanting tulang? Ya, aku sendiri kurang tahu. Lama aku tak berkomunikasi dengan orang tua. Terakhir, saya bertatap muka dengan orang tua sewaktu libur lebaran. Sekarang, hampir satu semester telah berlalu. Mudah-mudahan saja mereka sehat dan baik-baik selalu.

………………………………

Tasyakuran 5 INSIST

Sabtu, 9 Februari 2008 di Aula PPSDMS Nurul Fikri, Depok pkl 09.30-12.30 telah berlangsung tasyakuran sebuah lembaga yang mendedikasikan diri pada rekonstruksi khazanah pemikiran dan peradaban Islam. Lembaga tersebut lebih dikenal dengan nama INSIST, singkatan dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization. Di dalam ruangan tersebut berkumpul orang-orang yang tertarik dengan kajian peradaban Islam, mungkin sekitar 200 orang. sebagian besar besar pengunjung adalah anggota aktif INSIST dan mahasiswa pascasarjana dari berbagai perguruan tinggi di Jabodetabek, bahkan ada yang dari luar daerah. Baca lebih lanjut

Enterpreneur dari Lembang

Pemuda yang tangguh dan banyak akal. Begitulah mungkin yang dapat menggambarkan teman saya yang bernama Idih. Pemuda asal Lembang, Bandung ini adalah mahasiswa Biologi dua tahun di atas saya. Ia adalah pemuda sederhana dan mempunyai hobi yang unik, memasak dan berwirausaha. Baginya, kesulitan ekonomi keluarga tidak menghalanginya untuk berkarya dan memberikan yang terbaik bagi masa depan. Orang tua Idih adalah petani di daerah Lembang. Keluarganya juga tidak banyak yang melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Satu-satunya tumpuan harapan masa depan ada pada Idih. Baca lebih lanjut

Berfikir

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’ Dengan perumpamaan itu, banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak disesatkan Allah kecuali orang yang fasik”. QS 2:26

Cogito ergo sum, aku ada karena aku berfikir.
Rene Descartes, filosof

Apa yang membedakan manusia dengan hewan? Tidak ada perbedaan yang mencolok antara keduanya. Tinjauan secara mikroskopis, sel manusia dengan hewan adalah sama. Sama-sama dibentuk dari serangkaian biomolekul yang berpadu membentuk membran sel, badan golgi, mitokondria, membran inti, kromosom, dan beberapa organel lainnya yang mengapung di antara lautan sitoplasma. Secara makroskopis, tidak juga banyak perbedaan antara manusia dengan hewan. Keduanya memiliki organ jantung, hati, pankreas, lambung, ginjal, otak, paru-paru, dan lainnya. Saya teringat perkataan seorang alim bahwasannya ‘al insan al hayawan an naathiq’, manusia adalah hewan yang bisa berbicara. Mungkin fikir ulama tersebut adalah tidak ada perbedaan yang signifikan antara hewan dan manusia selain manusia mampu berkomunikasi dan dimengerti oleh manusia lainnya. Sedangkan hewan bagaimana? Sebenarnya tidak jauh berbeda. Hewan seperti ikan hiu pun mempunyai suara khas yang dapat dimengerti oleh sesamanya dan oleh manusia dianggap sebagai bahasa ikan hiu. Jadi, tidak ada perbedaan yang terlalu besar kan? Baca lebih lanjut