Ayah, Pahlawanku

Hari itu masih gelap gulita, hawa dingin pun masih menusuk tulang memaksa selimut tebal berkencan manis dengan kulit tubuh yang meringkuk kedinginan. Kulihat jam dinding yang usang tengah menunjukkan pukul 1.30 pagi. Saat itu aku masih berbaring di atas ranjang penuh kenangan, di sebuah sudut ruang rumah yang terbuat dari kayu jati berumur ratusan tahun. Sekelebat kuperhatikan sesosok tubuh tengah duduk menghadap ke satu arah dan terdengar suara lirih bernafas harap. Ia adalah ayahku. Nampaknya, ia sedang mengadu kepada sang Pencipta. Raut muka yang berkerut dan tubuh kurus kecoklatan karena sengatan matahari itu tengah berdo’a. Entah do’a apa yang sedang dipanjatkan…Cukup lama suasana itu berlangsung. Beberapa saat kemudian, ia pun tidur berselimut kain sarung kesayangannya, berkaos kaki, dan tubuhnya bersandar lelah pada tiang penyangga rumah. Matanya tertutup dan tak lama terlelaplah ia…

Aku bangkit dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi yang terletak di belakang rumah. Wuih…dingin sekali air di pagi ini, ucap hatiku setelah mengambil air wudhu. Setelah bermunajat mengharap keridhoan sang Khaliq, kupejamkan mata ini dan mencoba memimpikan sesuatu yang sebelumnya pernah terbersit. Sebelum itu, kulihat jam telah menunjuk angka tiga lebih sedikit.

Tak lama mata ini terpejam, di depan pintu rumah terdengar ucapan salam diiringi ketokan pintu. Siapa gerangan pagi-pagi begini sudah bertandang ke rumah? Setelah pintu dibuka, ternyata teman ayahku. Ia adalah teman karib sejak kecil sampai kini. Terdengar mereka bercakap-cakap mengenai suatu hal, sembari menonton TV yang saat itu sedang menyiarkan sepak bola liga Italia. Oh ya, satu lagi yang tidak boleh terlewatkan…mereka adalah maniak sepak bola. Beberapa saat kemudian, datang lagi laki-laki seumuran ayah. Ia adalah teman sekaligus tetangga di belakang rumah. Ia seorang tukang kayu. Mereka tengah asyik menyaksikan TV.

Tak terasa, jarum jam telah bergulir menunjuk pukul 4 pagi. Terdengar suara beberapa orang dari luar sana memanggil ayah dan teman-temannya. Mereka terus bergegas bersiap mau pergi, begitu juga ayah. Dengan berkendarakan sepeda ontel dan membawa cangkul, ayah dan teman-teman pergi menuju suatu tempat berpuluh kilometer menyibak kabut pagi. Mereka menawarkan diri sebagai pekerja ‘lajo’. Pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik dan teknik mencangkul tanah.

Beriringan kepergian ayah beserta teman-temannya, aku tertegun dan angan pun melayang. Dalam hati aku berucap, ” Ayah, tak akan kusia-siakan jerih payahmu menghidupi keluarga. Akan kutunjukkan di kemudian hari bahwa anakmu yang satu ini akan mengukir prestasi gemilang. Sungguh, biaya sekolah yang telah engkau keluarkan akan berbuah kebaikan di kemudian hari. Nasihat-nasihat dan untaian kata semangat yang sering engkau bisikkan ditelinga anakmu ini, insya Alloh akan menjadi pengingat berharga. Akan kubuktikan bahwa kita mampu. Sekarang, kita boleh miskin harta. Namun, kita tidak boleh miskin impian dan harapan tentang kebahagiaan hidup. Mulai saat ini, aku tidak boleh mengeluh tentang masalah dan kekurangan kita karena kita mempunyai Rabb yang senantiasa siap dan sedia mengabulkan pinta. Ya Robb, jadikanlah kami orang-orang yang berjuang menegakkan panji-panji kebenaran-Mu. Semoga kami digolongkan sebagai barisan orang-orang yang ikhlas dan diridhoi-Mu. Duhai Robb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka”.

Untuk sahabatku…
Ingatlah kisah ini. Semoga menjadi pengingat dan teman di kala kesunyian…

3 responses to this post.

  1. Posted by jajah on Februari 28, 2008 at 7:47 pm

    ABAH……
    HIKS…. HIKS……
    TAK PERNAH SEPATAH KATAPUN KELUHAN KELUAR DARI BIBIR MANISMU……
    AKU INGIN SKALI SAJA ENGKAU MEMARAHIKU KARENA KESALAHANKU?????

    Balas

  2. abah…..
    ingin ku kecup keningmu, dalam hening sepi selalu kurindu……
    sekali saja, marahi aku karena kesalahanku!!!!!

    Balas

  3. oooww…din..

    oh..ibu..i miss u..

    ni bicarain ibu ato bapak?..bapak..ya😀..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: