Berfikir

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’ Dengan perumpamaan itu, banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak disesatkan Allah kecuali orang yang fasik”. QS 2:26

Cogito ergo sum, aku ada karena aku berfikir.
Rene Descartes, filosof

Apa yang membedakan manusia dengan hewan? Tidak ada perbedaan yang mencolok antara keduanya. Tinjauan secara mikroskopis, sel manusia dengan hewan adalah sama. Sama-sama dibentuk dari serangkaian biomolekul yang berpadu membentuk membran sel, badan golgi, mitokondria, membran inti, kromosom, dan beberapa organel lainnya yang mengapung di antara lautan sitoplasma. Secara makroskopis, tidak juga banyak perbedaan antara manusia dengan hewan. Keduanya memiliki organ jantung, hati, pankreas, lambung, ginjal, otak, paru-paru, dan lainnya. Saya teringat perkataan seorang alim bahwasannya ‘al insan al hayawan an naathiq’, manusia adalah hewan yang bisa berbicara. Mungkin fikir ulama tersebut adalah tidak ada perbedaan yang signifikan antara hewan dan manusia selain manusia mampu berkomunikasi dan dimengerti oleh manusia lainnya. Sedangkan hewan bagaimana? Sebenarnya tidak jauh berbeda. Hewan seperti ikan hiu pun mempunyai suara khas yang dapat dimengerti oleh sesamanya dan oleh manusia dianggap sebagai bahasa ikan hiu. Jadi, tidak ada perbedaan yang terlalu besar kan?

Allah SWT sendiri telah membuat perumpamaan bahwa manusia dapat saja seperti hewan ternak, bahkan lebih buruk daripada itu. Dalam firman Allah QS 25: 44, “Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau berfikir? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang-binatang itu)”. Yang membedakan antara keduanya ialah kemampuan berfikir. Hewan mempunyai otak, sama kepemilikannya dengan manusia. Namun, otak manusia dapat dioptimalkan untuk berfikir. Dalam hal ini mungkin perlu dibedakan antara berfikir yang mengkolaborasikan dengan insting dan intuisi. Apabila diamati lebih lanjut, perilaku hewan yang sering kita anggap kemampuan ‘berfikir’ ialah kolaborasi otak yang membuahkan insting. Adapun manusia dengan otak yang dimilikinya dikolaborasikan sehingga menghasilkan karya berupa intuisi. Proses semacam ini lebih masyhur dikatakan penalaran ‘akal’.

Satu hal yang mendasar dan membedakan antara manusia dan hewan berdasarkan QS 2: 26 dan QS 25:44 ialah kemampuan manusia untuk memanfaatkan potensinya berupa otak untuk berfikir sehingga menjadikannya segolongan makhluk Allah yang berakal. Berfikir dalam hal apa? Dalil naqli tentang hal ini banyak ditemukan, seperti firman-firman Allah SWT dalam QS 88:17-20. Kemampuan manusia untuk berfikir yang membedakan dengan hewan tentunya mempunyai arahan yang jelas dari yang menciptakan otak dan manusia itu sendiri. Kolaborasi apik antara akal dan hati dalam makhluk yang dinamakan manusia ini membuahkan kematangan berfikir yang sensitif, mendalam, dan berorientasi masa depan.

Orang-orang yang mempercayai kebesaran dan kemuliaan Rabb mereka ialah manusia yang menggunakan akal dan hati. Sebaliknya, bagi orang yang tidak mengakui kebesaran dan kemuliaan Allah SWT merupakan manusia yang telah tertutup hati dan akalnya karena tidak menggunakan keduanya secara optimal dan menyeluruh. Golongan terakhir ini senada dengan pendapat bahwa mereka telah tertutup diri dari kebenaran, kebenaran yang dihasilkan dari alam fikir (aqliyah) dan kebenaran firman Allah SWT (naqliyah). Bahkan indikasi semacam ini, sebagaimana pendapat Komarudin Hidayat yang dikutip A. Riawan Amin (2006) adalah orang-orang kafir yang tertutup mata hati dan akalnya untuk menerima kebenaran. Maxim Rodinson berpendapat bahwa orang-orang kafir yang tidak dapat merasakan pengajaran dari Muhammad SAW dicirikan sebagai kaum bodoh, orang-orang yang tidak mampu mempergunakan daya pikir.

Seseorang yang telah merasakan kebenaran petunjuk dari Allah akan mampu menyibak segala fenomena yang terjadi. Hati dan akalnya akan senantiasa sinergis sehingga meningkatkan sensitifitas dalam berfikir. Selain itu, kedalaman berfikir akan membawanya larut dalam samudera hikmah sehingga membuahkan pandangan hidup yang berorientasi masa depan sebagaimana firman Allah QS 2:269. Orang-orang yang berakal ialah yang mampu menggunakan potensi yang dimiliki sehingga bertambah kecintaan dan dan kekagumannya pada yang menciptakan alam semesta. Telah banyak bukti manusia yang menggunakan akal dan hatinya dengan jalan yang benar sehingga dapat mengungkap rahasia besar. Mereka memahami benar potensi akal yang dimiliki, lalu dipadukan dengan bimbingan Rabb yang telah menciptakan mereka. Beberapa di antara mereka ialah Al Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Taimiyah, dan sederet pemikir lainnya. Mereka memadukan akal dan hati untuk berusaha memahami petunjuk yang Alllah berikan sehingga kian bertambahlah ilmu mereka manakala memperhatikan ciptaan sang Khaliq. Oleh karena itu, orang yang beriman senantiasa memuji Rabb-nya ketika mendapatkan pelajaran baru seraya berucap ‘Ya Rabb, maa kholqta haadzaa baatilaa, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia’. Lalu, bagaimana dengan kita?

dedikasi tinggi untuk saudaraku: Ust Riawan Amin dan Abu Fathan “Dalam setiap hembus nafas ini, semoga senantiasa bertambah iman kita di hati”
(27 Muharram 1429, 4:28pm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: