Enterpreneur dari Lembang

Pemuda yang tangguh dan banyak akal. Begitulah mungkin yang dapat menggambarkan teman saya yang bernama Idih. Pemuda asal Lembang, Bandung ini adalah mahasiswa Biologi dua tahun di atas saya. Ia adalah pemuda sederhana dan mempunyai hobi yang unik, memasak dan berwirausaha. Baginya, kesulitan ekonomi keluarga tidak menghalanginya untuk berkarya dan memberikan yang terbaik bagi masa depan. Orang tua Idih adalah petani di daerah Lembang. Keluarganya juga tidak banyak yang melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Satu-satunya tumpuan harapan masa depan ada pada Idih.

Idih merupakan pemuda yang baik. Sewaktu masih satu tempat tinggal, di Asrama IPB Sukasari, saya sering diberi makanan hasil tangannya sendiri. Ya, memang itu kebiasaan Idih kepada siapa saja kalau ada rezeki. Kadang-kadang, di sela-sela keseriusan teman-temannya berbincang membicarakan sesuatu ia bergurau dan memecahkan suasana. Sungguh orang yang lucu.

Dibalik itu semua, Idih adalah seorang yang giat dan rajin. Walaupun prestasinya di kampus tidak begitu menonjol, namun di bidang wirausaha dan kecakapan hidup jangan ditanya. Sembari kuliah, ia berwirausaha dalam bingkai organisasi keprofesian di Jurusannya sebagai kepala Divisi Jamur. Tugasnya memproduksi jamur dan memasarkannya. Tak pelak lagi, bekal pengetahuan di oragnisasinya tersebut terbawa sampai setelah selesai mengemban amanah. Ia menjadi mahasiswa bermental wirausaha. Di asrama, ia dikenal sebagai orang yang rajin. Sering kali ia menyapu asrama, mencuci piring, merapikan kebun, dan membetulkan kerusakan bangunana asrama tanpa diminta di saat mahasiswa yang lain menganggap pekerjaan tersebut remeh dan tidak diperhatikan. Di sela-sela kesibukannya kuliah, Idih membuat kue molen kreasinya sendiri dan dieri nama molnet, singkatan dari kue molen donat. Ya, semacam kue molen tapi bentuknya seperti roti bertabur coklat layaknya donat. Kue tersebut dijualnya dikampus dan pedagang-pedagang lain di sekolah SMP, SMA, dan di jalan-jalan. Berangkat pagi mengantarkan barang dan setiap sore atau sepulang kuliah mengambil barang sisa sekaligus uang hasil berjualan. Selain kue molnat, ia juga membuat kue-kue kering lain dan dijual ditempat yang sama atau di asrama. Untuk makan, ia memasak sendiri dan frekuensinya pun tidak sering. Ia makan kalau benar-benar lapar. Kadang-kadang kalau lapar juga belum mau makan, ia sering menunda dan lebih suka tidur, tidak tahu apakah karena tidak punya makanan atau uang atau bagaimana. Makananya pun seadanya, maklum mahasiswa. Namun, jangan ditanya tentang rasa makanan yang ia buat. Perempuan juga kayaknya dapat tersaingi oleh masakan Idih.
Suadaraku, kadang-kadang dalam idup kita terlalu banyak mengeluh. Mengeluh karena keterbatasan ekonomi, koneksi, atau lainnya. Mata hati kita tertutup oleh dinding keinginan yang banyak sehingga celah-celah kemudahan terasa sedikit bahkan tidak ada. Idih telah menjadi sumber inspirasi, betapa sulitnya hidup sebagai mahasiswa di tengah hiruk pikuk pergaulan dan gaya hidup. Di tengah mahasiswa lain yang asyik bergaul dengan gaya jet set dan menghamburkan banyak uang orang tua untuk sesiuatu yang tidak perlu, ia membanting tulang untuk menghidupi diri sendiri dan membiayai kuliah. Keterbatasan ekonomi tidak membatasinya mencari jalan kehidupan. Ia telah memilih berwirausaha sembari kuliah. Pekerjaan yang menurut sebagian besar mahasiswa mungkin bisa dilakukan setelah lulus, atau tingkat akhir. Agaknya, penggalan cerita ini menjadi cambuk bagi kita untuk terus melaju mengarungi samudera kehidupan. Tiadk peduli apakah yang akan menghadang, acuhkan segala rintangan yang menghalang. Dalam hidup, hanya tujuan dan kemauan yang patut dijadikan rumusan. Hidup tanpa tujuan bagaikan berjalan tanpa arah, tidak akan sampai ke tempat yang diinginkan. Kalau mempunyai tujuan tidak ada kemauan, niscaya akan menuai kesengsaraan dan berbuah penyesalan. Namun, disamping itu semua kita perlu proses untuk menjalani hidup ini dengan selamat. Jalan pintas cenderung akan menjerumuskan kita ke ranah yang lebih mengerikan. Ya, proses seorang Idih melalui lika-liku hidup telah membuatnya tegar dan menjadi sosok yang banyak akal. Keterbatasan di satu sisi tidak membuatnya terbatas juga di sisi lainnya. So, kuatkan tekad kita untuk terus menancapkan gas kehidupan supaya tetap melaju ke tempat tujuan. Berbekal keikhlasan menjalani hidup dan akhlakul karimah, cobalah kita arungi proses hidup ini dengan indah.

3 responses to this post.

  1. Posted by triniz on Februari 21, 2008 at 9:36 am

    ass,
    salut banget buat Idih, aq adalah gadis 19 tahun yg masih dpt dibilang gadis “jet set” tp jauh di lubuk hati aku ingin hijrah menjadi gadis muslimah yg sabar, tau malu, dan berjalan di jalan ALLAH.

    oleh sebab itu mari qita saling membantu dan menasihati ya, saudaraku

    085230059712
    085649541248

    bagi siapa saja yg mau membagi ilmunya bagi hamba Allah yg tersesat dan ingin hijrah ini

    Balas

  2. Posted by duniabaruku on Februari 21, 2008 at 1:01 pm

    To Triniz,
    Wslm.
    Barokallah, mba Triniz…saya salut dengan mba juga.
    Ya, kadang kita cenderung ‘status quo’ alias nyaman dengan zona yang kita alami sekarang. Kalau kita sudah menjadi orang punya/berada, kayaknya sedikit yang ingat dengan yang menciptakan.

    Semoga menjadi muslimah yang shalihah…
    Saya mendukung Mba Triniz…

    Balas

  3. salut pada IDIH…tanpa sadar sudah memberikan inspirasi bagi orang lain

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: