Beda Netral dan Bebas

Entah, hari kemarin saya bingung. Sebenarnya, apa beda ‘bebas’ dan ‘netral’. Sekilas memang beda, dari kata, jumlah karakter, and so on lah. Namun, bagaimana entitas dalam realitanya?

Pikiran ini mulai menginfiltrasi memori saya ketika membaca sebuah artikel tentang kebebasan pers. Lalu, saya kaitkan dengan konteks kekinian tentang sepak terjang dunia pers. So, benarkah ada yang netral atau bebas di dunia ini? Ok, saya perjelas pembahasan di sini mengerucut pada konteks media massa.

Orang pers bilang kalau mereka [atau kita?] menuntut kebebasan pers. Artinya, tidak ada tekanan (pressure), intimidasi, atau apalah. Itu merupakan hak kaum media’ers dan masyarakat untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi secara obyektif. Namun, coba kita lihat kenyataan di lapangan. I don’t know is there any neutrality or freedom in press?

Berita-berita mengesankan netral (walaupun tidak semua), dan berusaha memposisikan menjadi informan paling OK. Lihat saja surat kabar-surat kabar di sekitar kita: Kompas, Republika, Tempo, Media Indonesia, dll berusaha menyajikan informasi yang menurut mereka netral, bebas, jujur, dan obyaktif. Namun, ketika kita mengamati lebih dalam ternyata tidak sepenuhnya benar tentang kebebasan tersebut. Tentang kenetralan apalagi. Yang ada hanyalah di belakang mereka ada sebuah dorongan [pressure?spirit?] untuk memberitakan sesuatu sesuai ‘visi dan misi’ mereka.

Ya, memang…visi dan misi adalah keniscayaan. Namun, visi dan misi yang bagaimana? Visi dan misi untuk mencerdaskan bangsa, memberikan informasi secara obyektif, netral, ataukah yang sesua dengan ‘hidden agenda’ yang mereka bawa? Kompas, misalnya. Berita-berita yang dipaparkan cenderung bersifat pesimistis terhadap Islam. Kalaupun ada komentar-komentar tentang ke-Islam-an, juga yang dimuat adalah komentar yang mendeskriditkan Islam. Apabila ada berita yang menginformasikan Islam, tidak ‘sepenuhnya’ diinformasikan. Sepertinya ada yang di tutup-tutupi.

Lihat lagi, Republika. Mungkin ini adalahsurat kabar yang berusaha mencounter pemikiran dan isu (informasi) yang dikeluarkan oleh media yang mendeskriditkan Islam. Namun, bukankah ini juga merupakan bentuk ketaknetralan media? Atau berusaha menetralkan?

Saya tidak menampik bahwa ‘misi’ di balik karya-karya media memang ada. Namun, bukankah itu di luar ‘isu’ yang mereka keluarkan tentang mereka sendiri bahwasanya media adalah netral, tidak memihak.

Akhirnya, apa sebenarnya netral dan atau bebas itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: