Seni Menghadapi Ujian (1)

Cerita ini terjadi saat penyambutan mahasiswa baru 2 tahunan lalu. Hari-hari itu adalah hari yang sibuk karena menjelang hari pelaksanaan penyambutan. Mulai rapat, persiapan teknis, sampai brifing pra-pelaksanaan intensif dilakukan saat itu. Pukul 9 malam teman-teman panitia wanita sudah pulang ke kost-an masing-masing, sedangkan panitia laki-laki tetap di tempat melanjutkan persiapan untuk acara penyambutan yang sebentar lagi akan dilakukan. Persiapan tersebut sampai pkl 11-an malam. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan teman, saya langsung pulang ke kost. Jarak kost saya dengan tempat itu sekitar 1 jam perjalanan dengan naik angkot.. Ya, cukup jauh dan memang saya yang paling jauh tempat tinggalnya.

Angkot melaju melewati pasar rakyat di pinggiran kota. Ada hal menarik hati saya. Saya melihat banyak orang yang menyiapkan dagangan. Dengan memakai mantel dan jaket tebal, mereka menurunkan barang dagangan dari kendaraan dan membenahinya di tempat yang startegis dikunjungi orang. Tampak wajah-wajah lelah namun tetap bersemangat, tampak pula wajah riang yang selalu siap mengangkut barang bawaan. Yang terakhir, mereka adalah kuli ‘pocok’ yang biasa ada di pasar untuk membantu mengangkut barang bawaan penjual.

Kejadian di atas boleh jadi biasa terjadi. Dan, ya memang sudah lumrah kita lihat.. Namun, apabila diselami lebih lanjut, di sana ada mutiara hikmah yang jarang kita pikirkan. Betapa semangatnya mereka mencari uang untuk menghidupi keluarga mereka. Terjaga di tengah orang banyak yang sedang terbuai mimpi, bekerja mengerahkan segenap tenaga untuk membeli sesuap nasi di tengah orang banyak yang beristirahat menyuburkan sel-sel tubuhnya, dan mengurangi ‘jatah tidur’ mereka adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Setidaknya, mereka ada satu tujuan. Tujuan yang membuat mereka tetap kuat di tengah orang lain terperdaya dengan waktu malam, di tengah rasa kantuk dan ancaman dingin yang menusuk tulang: mecukupi kebutuhan keluarga.

Kadang, dalam aktivitas kita sehari-hari merasakan malas yang menjadi-jadi. Namun, apabila kita merenungi apa tujuan aktivitas itu, tentulah tidak akan terjadi rasa malas. Segala aktivitas yang kita lakukan tentunya mempunyai tujuan. Sebuah misi hidup yang harus dijalankan. Kalau tidak, harapan luas yang terbentang di sana tak akan menjadi kenyataan.

Cukup banyak contoh yang ‘berjatuhan’ di tengah perjalanan hidup mereka. Lelah, lama, tujuan belum tercapai, dan segudang alasan lainnya. Namun, sejenak marilah kita pikirkan tentang hasil yang akan kita dapatkan ketika kita tetap konsekuen dengan apa yang dilakukan, berusaha lebih baik dari sebelumnya, dan menginovasi diri dari waktu-ke waktu.

Memang, kita juga tidak memungkiri adanya ujian yang pasti datang di tengah perjalanan hidup. Ujian itu terasa sangat berat.. Yang paling berat mungkin apa yang sedang kita alami. Namun, kenanglah masa-masa di mana kita tegar menghadapi ujian. Saat-saat kita bergelut mengakhiri ujian dengan jerih payah kita, dan ternyata itu bisa diselelsaikan. Lalu, apabila masalah yang lalu sudah kita selesaikan, kenapa masalah yang sedang kita alami tidak bisa kita hadapi? Mungkin kita sering mengeluh, ini lebih berat dari masalah kemarin. Ya, dan bukankah itu alasan yang sama yang kita ucapkan dan rasakan ketika ujian yang telah lalu baru kita alami? Masalah itu terasa sangat berat, dan kita tak mungkin untuk memecahkannya. Ternyata, ujian dan masalah itu telah berlalu. Cepat atau lambat, yang penting masalah dan ujian itu pasti bisa diselesaikan, bukan? Lalu, kenapa kita tidak mengambil pelajaran dari bagaiman cara kita mengahadai ujuian dan masalha yang sudah terjadi? Kenapa kita tidak sekuat masa yang lalu ketika juga mendapat masalah?

Selain itu, marilah kita perkuat diri dengan kebahagiaan yang kelak akan kita rasakan setelah keluar dari krisis ujian ini. Ingatlah masa-masa ketika kita bisa tegar menghadapi masalah. Ingat kembali tujuan kenapa kita ada dan kenapa kita melakukan sesuatu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: