The Road To Laptop

“Dunia ini hanya tempat persinggahan. Karenanya, berbuatlah yang terbaik untuk hidupmu. Beramalah yang banyak untuk akhiratmu”

Panggil saja namanya syamil. Ya, mahasiswa yang sekarang tingkat akhir kuliah di sebuah perguruan tinggi itu bertutur tentang perjalanannya membeli laptop. Cerita itu dimulai sejak ia tingkat II. Saat itu, ia mulai merasakan pentingnya memiliki komputer. Sebelumnya ia tidak mau membeli komputer, karena memang belum membutuhkan. Pekerjaan tugas kuliah dapat dilakukan dengan komputer asrama tempatnya tinggal. Namun, di tingkat II, tugas-tugas yang semakin banyak seperti laporan, makalah, dan tugas organisasi membuatnya berfikir ulang. Ditambah lagi komputer asrama yang sering hang, banyak virus, dan lemodnya minta ampun karena masih pentium II. Terlebih pada masa-masa itu, penghuni di asrama tempat ia tinggal banyak yang memakai komputer untuk menyelesaikan tugas kuliah rutin, skripsi, dan pekerjaan lainnya. Sampai-sampai, untuk memakai komputer harus booking dulu alias take lebih awal. ” Di depan komputer di kasih papan pengumuman, ‘komputer ini mau dipake Syamil untuk ngerjain tugas. Please, tolong ya…cz besok mau dikumpulin'”, tuturnya sambil tertawa mengenang lucu.

Tantangan baru pun muncul. Ia tidak mungkin meminta orang tua untuk membelikan komputer. Jangankan komputer, kiriman per bulan saja susah dan kadang tidak ada kiriman, bagaimana mungkin membeli komputer? Lagian, ia tidak ingin memberatkan orang tuanya karena sang ayah pasti harus ekstra kerja keras banting tulang  dan peras otak untuk mengumpulkan dana membeli komputer. syamil tidak tega kepada ayahnya. Ia tidak ingin membuat ayahnya menangis lagi. “Ayah saya pernah kelihatan sedih ketika saya diterima di PTN. Ya, mungkin bagi kebanyakan orang gembira ketika anaknya diterima di perguruan tinggi, apalagi lewat jalur PMDK dan biaya yang dikeluarkan tidak terlalu mahal. Coba saja, dari uang rehabilitasi/pembangunan yang besarnya 100.000-3.000.000, ia hanya dikenakan 100.000. Nilai minimalis yang di bayarkan itu pun ayah saya tidak sanggup”, tutur Syamil kepadaku dengan mata berkaca-kaca. Semenjak itu, Syamil berikhtiar untuk mencukupi kebutuhan hidup di perantauan ilmunya dengan tidak mengandalkan kiriman orang tua. Ia rajin ke rektorat dan mencari informasi di papan pengumuman kampus tentang lowongan beasiswa, syukur-syukur ada lowongan kerja. “Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan beasiswa sebesar 100 ribu per bulan. Cukuplah untuk menambah uang saku. Dengan uang itu, saya memenuhi kebutuhan kuliah semisal buku, fotokopi soal, dan sebagainya. Untuk makan, saya biasa shaum jadi tidak terlalu masalah”.

Kebutuhan hidupnya per bulan sengaja di tekan. Mungkin cukup untuk kebutuhan paling primer saja, yakni makan, minum, dan biaya praktikum atau fotokopi so’al bila ada. Selebihnya, ia kumpulkan untuk ditabung. Setelah beberapa lama, uang yang dikumpulkan hampir satu juta. Ia mulai bertanya-tanya tentang harga komputer. Memang, dengan uang yang dimiliki sekarang belum mencukupi. Namun, setidaknya ia tahu berapa rupiah lagi yang ia butuhkan untuk membeli komputer. Tambal sulam alias fluktuasi jumlah tabungan pun terjadi. “Kadang bertambah, kadang juga turun. Namun, kebanyakan turun he..he…he…Maklum lah, akhir-akhir itu saya banyak pengeluaran terutama untuk transportasi. Jarak asrama dan tempat kuliah lumayan jauh, kalau jalan kaki sekitar 1 jam perjalanan. Gimana lagi, orang itu kost paling murah dan meriah”, tutur Syamil.

Katanya, show must go on. Syamil terus berusaha mengumpulkan dana untuk membeli komputer. Sampai suatu saat, peristiwa yang menyebabkan mengurungkan niatnya untuk membeli komputer terjadi. Peristiwa itu bermula ketika ia akan mengajar di kampus. Karena ingin menghemat biaya, ia meminjam motor teman sekelas. Di tengah perjalanan, karena sedang asyik dan santai melihat kesana-kemari, ia kaget ketika di depannya sudah ada mobil pribadi. Tabrakan pun tak terelakan karena tidak mungkin membanting setir berbelok. Akhirnya, ia dibawa ke rumah sakit. “Alhamdulillah, tidak sampai dirawat. Hanya dijahit di bagian kaki dan sedikit di dagu”, kenang Syamil.

“Biaya rumah jahit dan tebus obat ditanggung dulu oleh teman saya. Alhamdulillah, saya punya teman sebaik dia. Padahal uang tersebut dari jual HP untuk kebutuhan mendesaknya”, papar Syamil. Nilai nominalnya 500 ribuan lebih. “Wah, ternyata dari hal sepele ingin berhemat saya malah diminta membayar 500 ribuan lebih. Ya, 100 kali lebih tinggi daripada biaya kalau saya naik angkot. Tapi nggak apa-apa. Insya Allah itu keputusan Allah yang terbaik” tambah Syamil. Untuk biaya berobat dan periksa jalan, banyak teman yang membantu dan tabungan Syamil juga dirogoh.

Akhirnya….
Singkat cerita, perjuangan panjang memiliki komputer pun segera berakhir. Setelah beberapa lama menabung, ia akhirnya memutuskan untuk membeli barang yang selama ini ia idam-idamkan. Ia mengajak temannya yang tahu seluk-beluk komputer untuk menemani. Namun, ia tidak membeli komputer PC, melainkan laptop. “Alhamdulillah, dengan uang kiriman orang tua, tabungan, dan sedikit pinjaman dari teman saya bisa membeli laptop”, ujar Syamil sambil tersenyum bahagia.

One response to this post.

  1. saya juga lagi nabung nich buat beli laptop , harapannya supaya bisa berkarya lebih baik lagi
    semoga ya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: