Archive for Maret, 2008

Hore…saya aktif lagi..

Sudah beberapa hari ini saya tidak aktif di internet. Wal hasil, di internet hanya cek email, cari literatur, dan sekedar nengok blog.

Bentar dulu…sedang nyiapin cerita tentang usaha seorang manusia untuk sukses dan berjaya di muka bumi ini…

So, tenang aja..

What Happen With Me…?

What? Saya tidak tahu apa yang terjadi. Namun, yang pasti saya sedang bad mood. Akhir-akhir ini saya jarang menulis lagi, mencurahkan perasaan yang ada di hati. Padahal, kalau dipikir-pikir sangat banyak yang mengendap di otak ini. Kadang pikiran itu ingin saya tuangkan dalam tulisan agar tidak mudah menguap begitu saja, hilang dari angan. Keinginan menulis itu masih ada. Tapi, what’s wrong with me?

Keinginan itu kalah hanya karena ‘keinginan sesaat’. Ketertarikan pada suatu aktivitas yang sebenarnya -kalau dipikir-pikir-tidak banyak manfaatnya.

Telusur punya telusur tentang diri ini, akhirnya saya mulai dapat kunci yang selama ini hilang. Kunci gerbang konsistensi pada sebuah konsep yang telah lama saya buat. Jalan yang telah lama saya bayangkan, angan yang telah lama saya bangun, cita yang telah lama saya renda. Baca lebih lanjut

Parade Kaum Gay “Mardi Gras”

“Kaum Luth itu pun mendapat porsi di Australia…”

Senin, 24 Safar 1429 h ini saya terkejut dengan pemberitaan di sebuah media massa elektronik. Media tersebut mempublikasikan parade yang dilakukan oleh kaum gay dan lesbian di penjuru Australia. Acara tersebut dihadiri oleh hampir 10.000 peserta.

Yang membuat saya terheran adalah, ada pihak dari pemuka agama di sana yang ikut-ikutan menhadiri dan bahkan meminta maaf karena selama ini mengucilkan mereka. Kaum gay dan lesbi di Australia berkumpul untuk memperingati ulang tahun organisasi  kaum mereka.

What?? Sebuah penyimpangan yang aneh. Lebih aneh lagi pemuka agama yang mengamini keberadaan mereka. Memang, mereka tidak boleh dikucilkan. Mereka adalah saudara kita yang perlu perhatian. Perhatian tersebut bisa berupa nasihat kita, kasih sayang kita agar mereka menjadi manusia yang normal. Bukankah dunia juga mengakui yang demikian?