Mahasiswa dan Kebangkitan Nasional

Mulat sarira angrasa wani, rumangsa melu andarbeni, wajib melu angrukebi – “berani mawas diri, merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaga”.

Pangeran Mangkunagara III

Kebangkitan nasional telah satu abad bergulir (?). Kajian positif mengenai hal ini adalah perubahan dari berbagai segi kehidupan. Dalam urusan berbangsa dan bernegara, kebangkitan nasional menjadi poin penting titik tolak kemerdekaan. Mulai satu abad yang lalu (?), beberapa pemuda generasi terbaik bangsa ini mencoba bangkit untuk memperbaiki negeri yang telah berabad-abad terjajah. Bangsa ini membutuhkan terobosan baru untuk keluar dari lubang kumuh kolonial. Berawal dari pendidikan, perjuangan itu muncul menstimulasi lahirnya peradaban. Pergerakan yang dimotori oleh segolongan kaum intelektual tersebut merambah ke ranah yang lebih menantang, ranah politik.

Tulisan ini tidak akan membahas sisi historis perjuangan tersebut. Namun, lebih mengkaji pada analisis dibalik ‘kemauan’ mereka menuntaskan masalah bangsa saat itu.

Satu hal yang dapat kita tarik benang merahnya adalah perasaan saling memiliki bahwasanya negara ini bukan milik orang lain, namun milik semua. Agaknya saya tertarik dengan semboyan yang biasa dikemukakan oleh Pangeran Mangkunegara III sebagaimana dikutip pada bagian atas tulisan ini. Sebagai penghuni bumi Indonesia, setidaknya kita mempunyai kewaspadaan, mawas diri dari segala apa yang mungkin terjadi di kemudian kelak. Sudah cukup lama kita bersikap reaktif terhadap masalah yang datang, dari permasalahan ekonomi, politik, sampai dalam tatanan moral yang amburadul. Sederhana mungkin, namun boleh jadi ini karena kita tidak mewaspadai perubahan yang muncul di kemudian hari. Sampai saat ini, tidak banyak yang tersadar bahwasanya permasalahan tersebut muncul karena kita belum mampu memprediksikan apa yang akan terjadi. Memang-sekali lagi-yang akan datang adalah misteri, namun bukankah Allah SWT sendiri telah mengingatkan dalam QS Al Hasyr: 18, yakni “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Kenyataan hari ini adalah impian kemarin, rencana hari ini adalah kenyataan esok hari. Jadi, bilakah merencanakan esok hari masih bisa kenapa harus ditunda? Rencana yang komprehensif dan tetap waspada, mawas diri dari segala kemungkinan yang terjadi membentuk pribadi yang senantiasa siap dan sigap menyelesaikan agenda dan menuntaskan masalah yang tak terkira sebelumnya.

Selain mawas diri, perasaan ikut memiliki bangsa Indonesia menjadi bagian penting yang mendasari kaum intelektual masa itu. Transformasi nilai itu terhadap generasi kini dapat diejawantahkan sebagai berikut. Ketika masyarakat telah merasa bahwa bangsa dan negara ini adalah milik mereka, setidaknya ada konsekuensi logis untuk menjaga, merawat, dan menjadikan hak miliknya tersebut tetap utuh bahkan lebih baik. Rasa memiliki bangsa dan negara ini bukanlah hanya dengan mengucapkan bahwa ‘kami adalah bangsa Indonesia’, namun perbuatan dan perkataan tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia. Sungguh, ibu pertiwi ini rindu generasi yang ikhlas berkorban demi kemuliaan negeri. Kemuliaan dapat dibentuk dari menjaga martabat bangsa, tidak mudah menjual ‘diri’ demi sebuah tawaran pasar kepentingan sesaat. Moralitas adalah kuncinya. Jika generasi bangsa ini masih berfikir inferior, seolah kebudayaan negara lain lebih baik, memasukan nilai norma negara lain tanpa filter yang jelas, niscaya buah kemunduran akan dituai. Rasa memiliki juga bukan berarti berhak menjual aset bangsa ini kepada asing demi secuil pinjaman hutang, kebahagiaan tak berlama. Sekali lagi, memiliki adalah merawat dengan pengorbanan, menjaga dengan kebijaksanaan, dan memperindah dengan prestasi.

Mawas diri dan ikut memiliki tidaklah cukup untuk menjadikan negeri ini bangkit dari keterpurukan. Butuh generasi yang siap berjuang dan menjadi tameng penjaga bumi pertiwi dari segala penjajahan. Apabila kita amati lebih lanjut, negeri ini butuh generasi yang pantang menyerah, ikhlas, dan berkompeten dalam berbagai hal. Walaupun penjajahan fisik sudah jarang terdengar, penjajahan yang lebih mengerikan adalah adanya infiltrasi penjajahan dari segi kebudayaan, pemikiran, dan sosial. Indonesia butuh generasi yang cinta budaya negeri tanpa mengekor budaya asing dengan dalih kebebasan (tanpa memperhatikan hak orang lain). Indonesia juga membutuhkan generasi dapat menjaga prestasi bangsa di kancah internasional. Bahkan, lebih dari itu, negeri yang elok rupawan ini membutuhkan pejuang-pejuang tangguh yang setia dengan menorehkan prestasi gemilang, pengukir peradaban.

(?) debatable, apakah dimulai saat BOEDOET, atau SI.

One response to this post.

  1. Posted by mukhdan on Juni 18, 2008 at 10:42 pm

    Ayo kita bangkit, bangun kejayaan bangsa

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: