Saatnya Berlari…

“Wahai rekan-rekan mahasiswa, sekarang adalah saatnya mahasiswa bergerak! Bergerak menuntut pemerintah agar…”

Sepertinya, kalimat di atas ataupun yang senada tidak asing lagi terdengar di telinga kita apalagi yang masih berstatus mahasiswa. BERGERAK. Satu kata yang mudah, namun padat akan makna. Pesan tersirat dari kata tersebut adalah mahasiswa tidak lagi diam melihat segala kesemrawutan politik, keterpurukan ekonomi, kebobrokan moral, sampai penghianatan terhadap konstituen bangsa ini: rakyat.

Ironi memang, negara yang dulunya menjadi rebutan asing kini menangis dijajah. Bukan hanya oleh negeri asing, namun oleh ‘oknum’ bangsa sendiri. Aneh memang, bagaikan makan daging saudara sendiri. Tanpa izin, tanpa rasa kemanusiaan. Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sedari dulu didengungkan untuk diberantas sampai saat ini masih berjalan lambat-kalau tidak dikatakan berjalan di tempat. Kemiskinan, kebodohan, dan mental bangsa yang kalah kian subur. Dan, sederet antrian panjang masalah negeri ini…

Tidak hanya bergerak

Rasanya, saat ini mahasiswa tidak selayaknya lagi ‘bergerak’. Kita butuh lebih dari itu, yakni ‘berlari’. Mau tidak mau, suka maupun tidak, bangsa ini sungguh terpuruk. Kewibawaan negara yang tercabik, kedaulatan yang ternoda, sampai nurani yang tertanggalkan akibat kepentingan sesaat menstimulasi pergerakan menjadi sebuah solusi konkret bagi kemajuan negara.

Filosofi berlari

Tidak sekedar berlari. Berlari membutuhkan stamina yang cukup, konsistensi, ketahanan akan rintangan, dan tujuan. Bekal kefahaman kenapa harus bergerak, terlebih berlari haruslah cukup. Ketika berlari pun, konsistensi perlu dijaga. Jangan sampai di tengah jalan terengah-engah nafas, akhirnya banyak beristirahat. Ini sama saja dengan berjalan.

Untuk berlari, kita butuh bekal. Saat ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk melakukan aksi-aksi mengingatkan pemerintah dan semua yang perlu diingatkan. Lebih dari itu, solusi juga perlu disiapkan. Kapabilitas ilmu, kompetensi yang mumpuni, dan idealisme yang kokoh adalah bekal minimal dalam berjuang memperbaiki negeri ini. Dengan ilmu, niscaya tidak ada lagi pandangan bahwa mahasiswa hanya diperalat oknum tertentu. Kita bergerak karena nurani, kita berlari karena ingin kebaikan ada di bumi pertiwi.

Pembahasan yang menarik–setidaknya seperti yang saya amati akhir-akhir ini–adalah tataran gerak mahasiswa sebaiknya tidak sekedar opini, namun aksi nyata: kontribusi.  Advokasi, bina desa, sekolah politik rakyat, dan seabreg agenda masa lalu lainnya memang perlu dipertahankan. Namun, aksi seperti pelayanan kesehatan, pembuatan grand design pembangunan, pendidikan gratis bagi rakyat miskin, eksplorasi sumber energi alternatif juga tidak boleh dikesampingkan.

to be continued (insya Allah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: