Pemilu 2009: Masa Depan Islam

Akankah Fakta Politik 2008 akan mengulang Tragedi 1998?

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1998, Rezim Soeharto secara institusional jatuh. Tapi tahukah Anda jika kejatuhan Soeharto itu tidak semata-mata diturunkan oleh gerakan mahasiswa? Hebat benar jika ada gerakan massa yang bernama mahasiswa dapat menjatuhkan sebuah rezim militer yang telah berakar urat dalam tubuh bangsa selama 32 tahun atau seusia dengan kelahiran 1 generasi, tanpa ada kekuasaan lain yang turut campur menekan jatuhnya rezim negara. Tentu ada kekuatan besar yang menekan.

Kekuasaan yang menekan itu bersifat internasional. Siapa lagi kalau bukan AS. Tesis ini didasarkan pada fakta wacana dan konspirasi yang disetting secara global. Ada banyak korelasi global yang bila dihubung-hubungkan dapat terbaca sebuah skenario global. Singkatnya titik-titik hubung itu ada pada Rezim Soeharto, terbentuknya ICMI, dan Teori Huntington.

Pertama, pada masa perang dingin terbangun tren revivalisme Islam (kebangkitan Islam), poros yang kuat tampak di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri gerakan keislaman semarak baik di “bawah tanah” maupun di “permukaan tanah”. Kelompok di bawah tanah adalah kaum Islam harakah. Sedangkan yang di permukaan tanah adalah kaum intelegensia muslim yang melembagakan diri menjadi berbagai institusi keislaman. Kesemarakan Islam di Indonesia ini menandakan satu perubahan baru, yang mau tidak mau rezim Soeharto yang pro kapitalis harus segera merapat ke kelompok Islam bila kekuasaannya tetap ingin didukung mayoritas rakyat. Salah satu apresiasi dukungan penuh itu adalah merestui berdirinya ICMI (wadah akumulasi kaum intelegensia muslim Indonesia) dengan Habibie sebagai Ketua Umumnya (masih menjabat sebagai Menristek Orba) pada 1990. Keputusan Soeharto merapat ke kalangan Islam ini menjadi catatan penting bagi Barat untuk segera disikapi. Soeharto sebagai the good boy kapitalis sudah mulai menjaga jarak dengan kekuatan-kekuatan Barat.

Kedua, kapitalisme tidak dapat hidup bila tidak punya musuh. Karena itu segera setelah kemenangan kapitalis atas komunis dalam perang dingin dirumuskan the next anemy. Dalam hal ini Huntington memiliki peran strategis. Dia selaku penasehat politik luar negeri AS menerbitkan artikel terkenal “The Clash of Civilization” yang kemudian dibukukan pada 1993. Huntington di bukunya tidak mendefinisikan peradaban dengan baik, tapi menunjuk langsung—menurut dia—tujuh atau delapan peradaban yang akan berbenturan, di antaranya Barat, Konfusianisme, dan Islam—lalu agar tampak lebih akademis dilengkapi dengan tinjauan historisnya. Buku yang tebal itu sama sekali tidak memasukan Yahudi sebagai peradaban—apologinya karena jumlah penduduk Yahudi sangat kecil. Kuat dugaan, wacana benturan peradaban itu memang sengaja disetting Huntington. Bahwa tujuh atau delapan peradaban itu dibenturkan oleh Yahudi (AS).

Apa kaitan antara teori benturan peradaban itu dengan jatuhnya rezim Soeharto? Kaitan erat itu tampak pada: keputusan Soeharto merangkul Islam di Indonesia jelas-jelas masuk pada perangkap teori Huntington. Para Futurolog memprediksikan pada abad ke-21 Islam akan bangkit mendunia yang diawali dari timur (Indonesia/Malaysia ). Karena Soeharto (selaku kepala negara mayoritas mulim terbesar di dunia) merangkul Islam, maka sesegera mungkin sebelum memasuki abad ke-21 rezim Orba harus diturunkan. Langkah pertama yang diambil adalah menciptakan krisis moneter, lalu krisis ekonomi, lalu merembet pada krisis kepercayaan, lalu menggelombang menjadi krisis politik nasional yang mendesak untuk dilakukannya penjatuhan rezim dan reformasi total. Fakta krisis ini disetting dalam konteks kawasan, bukan semata Indonesia, sehingga tampak gelombang krisis ini bukan karena skenario tapi gelombang internasional yang bersifat natural.

Lalu apa kaitan antara Tragedi 1998 dengan setting 2008? Tahun 2008 adalah masa-masa di mana bangsa Indonesia sedang mempersiapkan diri akan mengadakan pesta demokrasi di tahun 2009. Kecenderungan utama menjelang pemilu 2009 ini adalah menguatnya basis Islam Politik. Fakta sosial-politik ini tidak mungkin dibiarkan berjalan begitu saja. Pasti ada kaitan dengan kepentingan global pada nasib sebuah bangsa. Perlu diingat Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Fakta demografis ini tentu mendapat perhatian penting dari Barat. Karena itu dalam jarak jauh, kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini terasa bernuansa intervensi asing. Banyak faktanya di antaranya, UU Migas, UU Penanaman Modal, Namru 2, bahkan pembiaran Ahmadiyah.

Perlu diingat pula, selang satu dekade dari terbitnya buku The Clash of Civilization (1993) tepatnya pada tahun 2004, Huntington menerbitkan buku barunya Who Are We: The Challenge to American’s Identity. Mungkin buku ini diterbitkan dalam rangka memperingati 10 tahun terbitnya buku Benturan Peradaban, dan juga sebagai akumulasi tesis perbenturan peradaban yang dipengaruhi oleh tragedi 9/11 pada 2001. Wajar bila kemudian dalam buku itu disebutkan Huntington secara definitif bahwa musuh Barat hanya satu, yaitu: Islam dengan atribut militan! Lagi-lagi di buku itu tidak didefinisikan dengan baik siapa Islam militan itu. Menurut Huntington, Islam militan adalah mereka yang terlibat dalam demokrasi dengan wajah partai, mereka yang selalu mengadakan aksi protes terhadap kebijakan-kebijakan Amerika, dan mereka yang selalu mengadakan bakti sosial. Bila definisi Islam militan demikian, baik partai atau pun gerakan mahasiswa Islam yang melakukan hal-hal tersebut dapat dikategorikan sebagai Islam militan—yang nota bene adalah musuh Barat dan harus diwaspadai.

Oleh karena itu, akankah menjelang pemilu 2009 akan terjadi tragedi? Allohu a’lam. Kasus Monas bisa menjadi bagian dari skenario itu, yaitu Memecah Belah Kekuatan Umat Islam. Sesama Islam dibenturkan. Hati-hati dengan kekuatan pemberitaan media. Media memainkan peran penting terlebih dalam isu kepemimpinan nasional. Semua media memiliki framing dalam memandang berbagai isu apalagi isu yang sensitif. Mereka juga tidak terlepas dari titipan pesan para pemodalnya. Kita berharap menjelang 2009 Indonesia dapat menentukan nasibnya secara merdeka tanpa tekanan asing. Dan itu semua kembali pada sejauh mana kerja-kerja yang sudah dilakukan Umat Islam, kita sendiri. Lebih dari itu persaudaraan keindonesiaan kita harus juga dikedepankan demi kebaikan bersama. Isu  persatuan umat dan bangsa harus menjadi agenda  besar tahun ini.

***

“Wahai orang-orang yang beriman, bila kalian bertemu dengan musuh maka berteguh dirilah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, agar kalian menang.”

(QS. Al-Anfal [8]: 45)

“Mari Eratkan Persaudaraan Kita”

(taken from: unknown)

One response to this post.

  1. artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:
    agama terhangat
    “Artikel anda di infogue”

    anda bisa promosikan artikel anda di http://www.infogue.com yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: