Menanti Pemimpin dari Langit

Menanti Pemimpin dari Langit

pemiraPerhelatan politik kampus semakin memanas. Bergitulah kiranya yang menjadi kesimpulan tentang keadaan dunia pergerakan berbasis moral intelektual ini. Pasalnya, estafet kepemimpinan keorganisasian mahasiswa tengah terjadi di kampus yang mengabdikan diri di bidang pertanian. Pertarungan kepentingan, kebutuhan, dan ideologi menjadi sengit karena kontestan kali ini terdiri dari berbagai warna yang menyusun pelangi kampus. Apabila dicermati dari kampanye-kampanye yang tengah beredar di sekitar kita, terdapat banyak kemajuan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Walaupun tak semarak ketika era pergerakan mahasiswa mencapai tonggak pada tahun 1998, intrik politik yang merebak dan pestapora sisi lain dunia kampus saat ini cenderung meriah. Peminat dunia kelembagaan mahasiswa dapat dikatakan meningkat dengan parameter banyaknya kontestan yang mendaftar sebagai calon pemimpin kampus. Dengan latar belakang organisasi, ideologi, dan kepentingan yang berbeda para calon pemegang kebijakan dunia kemahasiswaan kampus hijau ini berjibaku menarik simpati mahasiswa lainnya. Perang slogan, janji, dan komitmen terhadap pemilih menjadi andalan para calon presma-wapresma meraih kemenangan.
Terlepas siapa yang akan menjadi penghulu peradaban mahasiswa di kampus IPB, penulis mencoba memberikan masukan kepada pemilih dan tidak menutup kemungkinan kepada calon presma dan wapresma di IPB. Penulis berharap, pemilih menjadi lebih mengerti dan paham akan posisinya. Mereka mengerti kenapa harus memilih dan bagaimana menentukan pilihan. Bagi para kontestan, tulisan ini mengajak agar lebih bijak dan lebih dewasa menerima hasil pilihan mahasiswa. Beberapa hal yang sepatutnya dimiliki oleh presma dan wapresma ke depan ialah:
1. Jujur
Presiden mahasiswa merupakan jabatan publik. Segala kebijakan organisasi yang merepresentasikan seluruh mahasiswa IPB berada di tangannya. Niat yang lurus untuk memberikan yang terbaik bagi civitas IPB hendaknya dibarengi dengan sikap jujur terhadap segala tindakan yang dilakukan. Kejujuran seorang presma akan menjadi teladan bagi segenap jajarannya dan    mahasiswa IPB secara keseluruhan. Alasan yang cukup penting kenapa kejujuran sangat diperlukan adalah, kelembagaan tingkat kampus ini berjalan dengan membawa banyak kepentingan. Entah itu kepentingan pendukung sewaktu mencalonkan diri, kontrak politik dengan elemen tertentu, atau karena posisi ini memang terbilang ‘basah’ karena bersinggungan dengan birokrat kampus di rektorat bahkan lingkup daerah dan nasional. Apabila arus kepentingan golongan lebih kuat daripada dorongan untuk memperjuangkan nilai dan hati nurani mahasiswa, keluhuran budi dan cita moral mahasiswa akan kandas dan cenderung mengabaikan intelektualitasnya. Amanah sebagai pemegang mandat civitas mahasiswa dijadikan ‘objekan’ dan memperkaya diri, memakmurkan golongan, dan tidak memperhatikan kesejahteraan bagi yang lainnya. Sikap jujur ini juga seharusnya tercermin dari transparansi kinerja dan laporan pertanggungjawaban yang dilakukan, baik yang menyangkut finansial maupun targetan realisasi janji sewaktu kampanye.
2. Bertanggung jawab
Ketika seorang menjadi pemimpin, maka ada beban yang harus ia emban baik janji dan komitmen pada jargon maupun       program-program sebagai janji kampanye. Hal yang tidak mustahil ketika sudah terpilih menjadi presma dan wapresma akan       lupa dengan ucapan manis merebut hati massa civitas mahasiswa. Orang yang bertanggungjawab akan sekuat tenaga merealisasikan serangkaian program yang telah dijanjikan. Selain itu, ia juga bertanggungjawab terhadap sekian ribu massa    yang mempunyai beribu kepentingan dan keinginan.
3. Kompeten
Kompetensi seorang pemimpin dapat dinilai dari kemampuan mengorganisasikan, mengambil keputusan, dan melakukan gebrakan yang terbaik bagi yang dipimpinnya. Tidak hanya itu, karena posisi ini juga terkait dengan jabatan politik, kemampuan merangkul dan meramu berbagai kepentingan menjadi hal yang sangat diperlukan. Apabila ditelaah lebih lanjut, konteks perjuangan mahasiswa dapat dibagi dua. Pertama konteks internal yang meliputi perjuangan merealisasikan pemenuhan kebutuhan mahasiswa. Kedua, konteks eksternal yang meliputi kepentingan rakyat sekitar mahasiswa berada baik tingkat lokal (daerah) maupun skala nasional. Dengan kata lain, mahasiswa tidak hanya harus aktif sebagai kaum intelektual yang harus kompeten dengan bidang ilmu yang digelutinya, namun juga memikirkan dan memberi solusi bagi serangkaian urusan negeri yang sudah lama menantikan angin segar perubahan. Dalam kacamata kekinian, posisi kelembagaan mahasiswa di IPB menjadi cukup penting karena akan mengawal sebuah pesta demokrasi lingkup Bogor. Advokasi terhadap kepentingan publik dan masyarakat luas menjadi tanggungjawab tersendiri bagi mahasiswa IPB. Hal ini tidak terlepas dari fungsi dan peran mahasiswa sebagai agen perubah dan kaum intelektual yang memperjuangkan integritas dan kepentingan sekitar sehingga tatanan ideal kemasyarakatan, pemerintah, dan kenegaraan dapat tercapai. Pemimpin yang tidak mempunyai track record yang baik apalagi oportunis dapat dipastikan akan tersingkirkan dari sejarah politik kemahasiswaan. Kita memerlukan pemimpin yang mempunyai kompetensi memadai bagi pemecahan persoalan kampus, bangsa, dan negara bahkan internasional.
4. Peduli
Kepedulian mahasiswa terhadap sesama dipadu dengan perhatian yang total terhadap permasalahan sekitar menjadi satu syarat penting bagi seorang pemimpin. Bagaimana mungkin seorang akan dipilih menjadi pemimpin sedangkan ia masih enggan memikirkan kepentingan orang lain. Seorang pemimpin harus mengetahui dan mempunyai empati yang tinggi terhadap keadaan di sekitar. Sebagaimana diketahui, banyak masalah yang dihadapi mahasiswa mulai akademik, finansial, kompetensi masa depan, sampai kontribusi terhadap segenap permasalahan lingkungan. sikap peduli pemimpin minimal dapat menjadi penawar kehauasan akan perhatian massa yang dipimpinnya. Peduli juga menjadi saru parameter kesungguhan seseorang untuk berkorban demi kepentingan yang lebih banya.
5. Inovatif
Permasalahan pelik yang dihadapi dunia pergerakan mahasiswa saat ini memerlukan solusi realistis dan aplikatif. Lebih jauh lagi, seorang pemimpin hendaknya memiliki inovasi akan strategi pemecahan masalah dan peningkatan kompetensi diri dan yang dipimpinnya. Inovasi menjadi sesuatu yang penting karena apabila diamati lebih jauh, permasalahan yang ada merupakan permasalahan lama. Hanya saja, terdapat derivatisasi permasalahan sehingga membutuhkan langkah yang inovatif, cerdas, dan berkesinambungan. SPP, implementasi mayor minor, sampai sarana dan prasarana kegiatan akademik merupakan masalah yang sejak dulu belum selesai sampai saat ini. Di lingkup nasional, pengawalan kehidupan berbangsa dan bernegara elit politik dalam mengemban amanah perlu dilakukan. Sungguh, semuanya memerlukan strategi pemecahan yang integral dan inovatif.
6. Merakyat
Karena presma dan wapresma merupakan jabatan politik, akseptabilitas posisi tersebut patut diperhitungkan. Pemimpin yang merakyat setidaknya akan lebih tahu permasalahan massa yang dipimpinnya. Di samping itu, pemimpin akan lebih memiliki gambaran menyeluruh mengenai solusi yang akan ditawarkan guna penyelesaian permasalahan. Apabila suatu kepemimpinan didukung oleh segenap civitas, kebijakan yang dikeluarkan dan kegiatan kemahasiswaan yang dijalankan akan meningkatkan partisipatif mahasiswa. Sebagaimana kenyataan yang ada, tingkat partisipatif mahasiswa dalam even kelembagaan kampus semakin menurun apalagi apabila dibandingkan dengan tingkat partisipatif dalam advokasi dan pemecahan masalah yang lebih besar semisal negara.
7. Akomodatif
Jika seseorang mendapat kepercayaan untuk menjadi pemimpin, semisal presiden mahasiswa, kepentingan yang ia bawa bukan lagi untuk segolongan saja. Namun, ia membawa kepentingan seluruh massa yang dipimpinnya. Oleh karena itu, diperlukan sikap akomodatif seorang pemimpin terhadap segala keinginan semua elemen mahasiswa. Tentunya, di sini memerlukan sikap adil dan lebih mengedepankan kepentingan publik daripada golongan. Akomodatif juga menjadi bagian yang penting dalam sebuah kepemimpinan di IPB karena mahasiswa di IPB heterogen. Pluralitas ideologi, budaya, dan karakter mahasiswa IPB mempengaruhi kepentingan dan kebutuhan yang ada. Hal ini perlu mendapatkan perhatian sehingga semua perbedaan dapat diramu menjadi satu kebijakan yang merangkul dan mengayomi sesama. Tentunya, kebijakan yang diputuskan harus sesuai dengan nafas perjuangan mahasiswa yang mengedepankan perjuangan moral intlelektual.
Demikian tujuh hal yang selayaknya menjadi pertimbangan bagi pemilih dan masukkan bagi kontestan pemira KM IPB. Satu hal yang peru dicatat demi perkembangan dan kemajuan perpolitikan dunia kampus ini ialah partisipasi dari semua komponen civitas mahasiswa. Selayaknya permainan catur, tidak semua mahasiswa menjadi raja. Tidak juga mahasiswa semuanya menjadi prajurit atau spion. Adakalanya, perlu seseorang yang pantas menjadi pemimpin dan lainnya melengkapai dengan peran masing-masing. Semuanya itu hanya untuk satu tujuan bersama, demi terciptanya iklim yang kondusif bagi kehidupan kampus yang akomodatif, berwibawa, dan bermoral intelektual.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: