Generasi Sensitif

GenGSi, Generasi yanG Sensitif
:sebuah catatanperjalanan

tercipta engkau dari rusuk lelaki
bukan dari kaki untuk dialasi
bukan dari kepala untuk dijunjung
tapi dekat di bahu untuk dilindung
dekat jua di hati untuk dikasihi

mana mungkin, lahirnya bayangan yang lurus elok
jika datangnya dari kayu yang bengkok
begitulah pribadi yang dibentuk

didiklah wanita dengan keimanan
bukannya harta ataupun pujian
kelak tidak derita, berharap pada yang binasa
[1]

Di atas adalah potongan sya’ir tentang wanita. Ada apa dengan wanita? Ia, kata orang, diciptakan sebagai makhluk yang sensitif dengan dominasi perasaan dalam pertimbangkan suatu hal. Benar atau salah, tentu kembali pada pribadi masing-masing.

Sensitif, peka, hassas atau apapun namanya adalah buah hati dalam memandang suatu kejadian. Kita dikatakan sensitif terhadap suatu permasalahan ketika ia [permasalahan] kita ketahui tanpa harus diingatkan orang lain. Kadang, makna sensitif juga ditautkan dengan perasaan cepat marah atas sesuatu yang mengganggu diri. Oleh karenanya, tak pelak tuduhan ‘orang sensitif’ bersarang bagi ia yang cepat tersinggung, marah, dan ngambek. Dengan melihat definisi ini, tentu kaum Adam juga makhluk yang sensitif.

Apakah sensitif itu buruk? Dalam hal ini, alangkah bijak ketika kita kembalikan ke definisi semula tentangnya. Jadi, ia adalah kata sifat yang netral, tidak bertendensi buruk maupun baik bergantung pada arah mana ia akan bawa oleh empunya bicara. Pun, tulisan kali ini mencoba mengurai makna sensitif dengan sudut pandang yang mungkin berbeda.

Sensitif, dalam derivatnya dapat berarti firasat tajam. Perihal ini, Rasulullah SAW mengatakan “Waspadalah terhadap firasat seorang mukmin. Sesungguhnya dia melihat dengan nur Allah” [2]. Sungguh, manifestasi luhurnya keimanan ketika ia bisa menerawang masa depan tanpa menjadi futurolog dan paranormal; menjadi orang yang cepat tahu tanpa harus dididik sebagai intelijen negara yang untuk masuknya berseleksi ketat; menjadi orang yang cepat nyambung pokok permasalahan tanpa kuliah dahulu di Fakultas Psikologi maupun Komunikasi. Ia adalah buah ketakwaan dari Rabb sekalian alam.

Subhanallah. Betapa shalihahnya istri generasi permulaan ummat ini sehingga mampu mentarbiyah hati. Mereka mengingatkan para suami ketika mencari nafkah, “Hati-hati dengan rezeki haram, karena kami tahan hidup miskin dan lapar; tetapi tak tahan hidup di neraka”. Pun, perempuan yang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Wahai Imam, kami perempuan penenun. Di hari-hari tegang seperti ini tentara kerajaan kerap beronda malam dengan lampu-lampu mereka. Kami bekerja di atap rumah dengan tambahan sinar yang memantul dari lampu-lampu itu, hingga hasilnya menjadi lebih baik dan harganya esok menjadi mahal. Halalkah kami memakan kelebihan keuntungan yang dihasilkan itu?” [3]. Inilah sensitifitas takwa.

Tidak banyak orang yang memiliki kadar hassasiyah [sensitifitas] positif sehingga mampu mengalahkan kepekaannya atas kepentingan pribadi [4]. Hassasiyah, kata Ustadz Rahmat Abdullah, lahir dari kecintaan pada ilmu dan kemauan mengamalkannya. Lihatlah, betapa sensitifnya keimanan sahabat Anshar sehingga memiliki kecepatan luar biasa menyongsong kebaikan. Mereka berbagi rumah dan harta dengan saudaranya, kalangan Muhajirin. Namun, sensitifitas imani Muhajirin pula yang tidak aji mumpung menyalahgunakan kepercayaan Anshar.

Sensitif perlu dilatih. Ia tidak datang mengakar dan dengan pongahnya menggelar karpet kebaikan bagi siapa saja yang berjalan. Namun, ia adalah buah dari pohon pengorbanan yang berakar keikhlasan. Ia mungkin tangis karena satu saudara kini telah tiada. Pun, ia dapat juga marah karena teman seperjuangan dihina dan dilecehkan tanpa alasan benar. Suatu saat, kita ingin menjadi tabi’in yang menangis karena ucap tak pantas saat berbicara; karena sensitifnya hati.

Biarkanlah jejak waktu memberikan kesan. Kesan akan kepekaan. Biarkan kepolosan nurani memberikan arti bagi setiap kata kejadian. Sungguh, sebenarnya malu dirilah seorang yang diminta pertolongan. Sepatutnya, ia berfikir “Oh, dosa apa yang kuperbuat. Mestinya aku sudah menangkap hajatnya sebelum ia menyatakan permintaannya” [5]. Lagi-lagi: kepekaan.

Pandangan mata selalu menipu
Pandangan akal selalu tersalah
Pandangan nafsu selalu melulu
Pandangan hati itu yang hakiki; kalau hati itu bersih
[6]

Bagaimana melatih sensitifitas?
Tak dapat dipungkiri, sumber dari segala sikap adalah hati. Ia adalah raja bagi organ-organ tubuh. Oleh karena itu, adalah pilihan cerdas ketika ingin meningkatkan sensitifitas diri langsung pada biang keladi: hati. Para cerdik cendekia menyebutnya tazkiyatun nafs, membersihkan diri.

Menimbang pentingnya fungsi ini, maka Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sabdanya: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram pun jelas, dan di antara keduanya ada hal-hal yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjauhinya, maka ia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya dan barangsiapa memasuki syubhat, ia telah memasuki keharaman, seperti halnya penggembala yang menggembala di sekitar batas (tanahnya), tidak lama ia akan jatuh ke dalamnya. Ingatlah bahwa setiap kepemilikan ada batasnya, dan ingatlah bahwa batas Allah ialah larangan-larangan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik seluruh tubuh akan baik jika ia rusak seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah dialah hati.”[7]

Semoga kita bukan golongan dzhaalimun [orang-orang yang dzhalim]. Yakni, orang-orang yang telah diberi peringatan namun tiada mengerti substansi peringatannya. Cukuplah kiranya, Allah SWT mentadzkiroh kita dengan Situ Gintung. Cukup pula Ia mendidik kita dengan sinyal-sinyal alam yang menyisakan rasa kagum. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. [8]

Orang yang sensitif telah menggunakan akalnya untuk mengomando tindak tanduk keseharian. Bila hati cenderung me-rasa-i, maka akal akan menimbang rasional. Kolaborasi dua entitas diri insani ini membuahkan akhlak karimah. Dengan keduanya, kita bisa berfikir jernih ‘melakukan atau tidak melakukan’ sesuatu. Ibarat seorang cerdik pandai berkata, ” hendaklah berfikir jernih sebelum kita mengucapkan sesuatu, jika akan membawa kebaikan maka ucapkanlah. Namun, jika tidak membawa kebaikan; maka tahanlah”. [9]

Sungguh, berbahagialah orang-orang yang memperlama sujud. Pun, mereka sensitif ketika mendengarkan ayat-ayat Qur’ani, membaca wahyu Ilahi, atau melihat pada yang mengingatkan akhirat kelak [10]. Tiada hijab antara mereka dan Rabb semesta. Inilah generasi robbani hakiki. Generasi bak Umar bin Khaththab yang pada wajah beliau ada dua garis hitam karena sering menangis [11]. Mereka ingat kematian yang pasti kan datang. Karenanya, aktivitas keseharian hanya ditunjukkan untuk masa depan: negeri akhirat yang lebih utama.

Siapkan pundi-pundi bekalmu
Untuk masa yang pasti menantimu
Bila kematian datang menjemputmu
Sampailah sudah batas hayatmu
[12]

Akhir kata, sembari terus berupaya menjadi pribadi sensitif, “Ya Allah, ampuni seluruh dosaku, baik dosa kecil atau dosa besar, dosa pertama atau dosa terakhir, atau dosa di saat bersama orang lain atau sendirian” [13]. Insya Allah, harapan itu masih ada [14].

akhukum fillah,
yang terus berjalan tanpa bisa berhenti
[15]

Sumber:
[1] D’Hearty, Insan Teristimewa
[2] HR Tirmidzi dan Ath-Thabrani, 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad), Dr. Muhammad Faiz Almath
[3] Warisan Sang Murabbi, KH Rahmat Abdullah
[4] Ibid
[5] Ibid
[6] Hijaz, Mata Hati
[7] HR Bukhari dan Muslim, Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Ibnu Hajar al-Atsqolani
[8] QS Ali Imran: 190
[9] Wahid Abdussalam Bali, 40 Kesalahan dalam Berbicara
[10] Abul Hamid Al Bilali, Taujih Ruhiyah: Pesan-Pesan Spiritual Penjernih Hati
[11] Ibnu Al Jauzi, Tarikhu Umar bin Al Kaththab
[12] Syeikh Muhammad Jamil Zainu, Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat
[13] HR Muslim
[14] Shoutul Harokah, Bangkitlah Negeriku
[15] Cahyadi Takariawan, sebagaimana yang di sms-kan ke Ust Mabruri MA

sumber lain:
[01] Diskusi [syukron katsiir bagi yang sudah saya ganggu untuk menanggapi pertanyaan aneh itu.Saya tunggu jawabanya]

One response to this post.

  1. Posted by nana on April 6, 2009 at 9:06 pm

    ketika seorang manusia belajar, dalam fase manapun di khidupannya, sesungguhnya Alloh senantiasa melatih kepekaan nuraninya melalui uji dalm duka dan suka, lalu sejauh mana hati tersentuh, lihatlah kondisi hatinya…sehat, sakit ataukah mati? dengan apa dan bagaimana pula hati berinteraksi dg lingkungannya…?
    kepekaan adalh keniscayaan yang indah, seindah keimanan dalam dada orang salih..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: