Prosa Demokrasi: Belum Ada Judul

Belum Ada Judul [1]
;prosa harapan bagi pemimpin masa depan

Pemilu 2009 sebentar lagi. Hingar bingar dan riuh gemuruh kampanye tlah berhenti. Itu kasat mata. Namun, entah di mana tempat tetap ada yang menyelinap. Ia mengendap dan sesekali muncul di tengah senyap.

Inilah kisah di negeri entah. Di mana janji bertebaran semasa dua puluh satu hari. Tak dipungkiri, cara dekil dan hina ditempuh demi massa. Konstituen yang bahagia tak lebih satu bulan saja, namun menderita hampir lima tahun lamanya. Benar atau tidak, itulah keluhan yang ada.

Gemah ripah loh jinawi. Inilah slogan kaum pendatang dan pribumi. Sejak dulu hingga kini, tetap asri walau sedikit ternikmati. Tak banyak rakyat yang mengerti buat apa contreng itu dan ini. Meski tahu, hanyalah ritual demokrasi yang dari lahir sampai sekarang belum tentu paham karena dipaksakan.

Adakah secercah harapan bagi rakyat yang terbuang? Mungkinkah negeri ini bangkit dan meraih kejayaan? Tlah banyak pejuang yang terkorbankan demi sebuah negeri harapan. Dengan semangat berapi, mereka katakan:

Aku datang menguak fajar
Katakan padaku wahai hari
Apa yang dapat kuberikan
Pada sejarah hari ini.

Aku datang mengantar senja
Katakan padaku wahai malam
Berapa bintang kau perlukan
Untuk menerangi langitmu.

Inilah lagu cinta dan kehormatan
Yang kunyanyikan dengan tekad
Wahai umat wahai bangsa
Aku selalu ada di sini
Saat darah saat air mata
Aku datang mengantar umat
Pada gerbang sejarah baru [2]
***

Memang, perjalanan negeri ini masih panjang. Demikian pula generasi yang gemilang, apakah kini entah nanti; pasti akan datang. Yang pasti, gegap gempita pesta 9 April nanti harus ada perubahan lebih baik.

Negeri ini perlu pemimpin yang bersih. Yang tak silau dengan permata. Pun, tak tuli akan aspirasi konstituennya. Ia kan senantiasa mengingat janji, demi cita hakiki: masyarakat madani yang adil, sejahtera, dan bermartabat.

Rakyat butuh pemimpin yang peduli. Yang bertekad untuk melayani. Ia tak sudi kaum papa tersakiti. Pun, ia tak rela harga diri umat terinjak. Dengan mengusung perubahan dan penyelamatan, ia peras keringat demi kemenangan terjanjikan.

Lebih dari itu, pemimpin yang diidamkan adalah insan profesional. Cerdik pandai yang tak lena karena pujian; pun tak goyah karena cabaran. Ia adalah cerminan kompetensi yang diharapkan. Laku dan tindaknya adalah karya pikir strategis dengan tetap membuka ijtihad perbaikan.
***

Saya yakin, ini adalah fase. Pun, celah sejarah telah memberi peluang untuk berkontribusi demi kemenangan terjanjikan. Seperti pejuang yang ikhlas dengan pengorbanan, sudilah kiranya pemilik bumi ini menyaksikan: karya nyata nan mulia, untuk umat dan bangsa tercinta [3].
***
Yuk, benahi Indonesia: harapan itu masih ada.

rujukan berisi:
[1] Iwan Fals, Belum Ada Judul
[2] HM Anis Matta, Dari Gerakan Ke Negara
[3] Inspirasi: QS At Taubah 9:105

2 responses to this post.

  1. […] satu hari. tak butuh satu bulan. namun, haruslah pasti pilihan itu pada […]

    Balas

  2. […] April 8, 2009 oleh duniabaruku Hasil quick count pemilu legislatif (pileg) 2009 memang diperbolehkan di publish oleh MK. Namun, KPU menyarankan kepada pihak lembaga survei untuk mempublish-nya setelah jam 12 hari-H pemilihan. […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: