Membaca, Siapa Takut?

Membaca. Sebuah kata yang terdengar ringan, baik sekedar melafalkan bahkan melakukan. Melafalkan hanya butuh kemampuan aksara, sedangkan melakukannya hanya perlu tambahan mata.

Sepertinya semua sepakat bila membaca adalah cara cerdas menimba ilmu. Meskipun menghadiri tempat pendidikan (sekolah, perguruan tinggi, majlis ilmu, atau sejenisnya), tetap saja membaca adalah syarat terbukanya hikmah. Bahkan, membaca adalah satu-satunya cara murah dan mudah memelihara pengetahuan dan menguak pintu kepahaman.

Namun sayang. Kendati yakin bahwa membaca adalah teknik ideal memperoleh ilmu, kadang terbentur dengan alasan-alasan pelik yang ‘mengharuskan’ kita menyingkirkan ‘kebenaran’ tersebut. Parahnya, pertimbangan untuk meninggalkan ‘membaca’ begitu lebih kuat daripada hasrat diri memenuhi keinginan sesaat. Oleh karenanya, tidak mustahil kita lebih memilih nonton tv, ghibah (gosip), ganti status facebook/socnet, nge-game, atau mendengar musik daripada meluangkan waktu untuk membaca buku maupun artikel bermanfaat.

Lalu apa yang sebenarnya perlu dilakukan untuk menyikapi permasalahan ini? Apalagi bagi seorang yang katanya sudah lama mendapat ‘siraman materi keislaman’? Ke mana bekas siraman tersebut? [1]

Ada beberapa yang menjadikan seorang nge-fans dengan aktivitas membaca. Bisa dilihat dari sisi isi buku, atau gaya yang diterapkan saat membaca.

Kadang, sebagian orang lebih cenderung membaca buku bertema ‘ringan’. Maksudnya, yang mudah dipahami dan tak perlu berpikir dalam. Untuk golongan ini, meski mungkin hipotesis saya salah; lebih mengedepankan ‘kesenangan’ diri dalam membaca. Namun, ada pula orang yang mengutamakan ‘kebutuhan’ tema tertentu. Boleh jadi, ia akan ‘memburu’ bacaan bertema ‘berat’ sekalipun.

Tentu, kita akan melihat ‘output’ yang berbeda dari penerapan kedua tipe ini. Di atas semua itu, yang terpenting menurut saya adalah bagaimana seorang memposisikan diri terhadap pribadi, masyarakat, bahkan idealismenya. Jika ia menganggap dengan membaca ia membuka tabir keagungan Sang Pencipta [2], niscaya segala upaya akan dilakukan meski melampaui batas kesenangannya.

[1] IMO, pembaca sudah tau apa urgensi membaca. Bahkan, di ‘pertemuan’ seringkali ditekankan bahwa kunci untuk menyingkap tabir pengetahuan adalah dengan membaca. Lihat sejarah awal Rasulullah mendapatkan wahyu pertama.
[2] Bagi saya, prinsip ilmu adalah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Lebih dari itu, ilmu tersebut dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah dengan segala derivasi pengamalannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: