Ironi, Mayoritas Muslim Tapi Phobia Islam

Noordin M Top, Syaefudin Jaelani, dan sederet nama lain tengah menjadi buronan polisi. Pascaledakan Marriot 2009, Islam kembali tertuduh. Meski memang tak menuding Islam secara langsung, namun efeknya sangat terasa bagi sebagian besar Muslim yang ingin mengaplikasikan Islam secara menyeluruh.

Stigmatisasi Islam garis keras, kini kian marak walaupun belum jelas apa definisi Islam garis keras. Tak ayal, beberapa organisasi Islam dituduh sebagai sarang teroris. Bahkan, sekaliber ulama dunia yang tak ada sangkut pautnya dengan pengeboman pun dituduh menginspirasi oknum yang menjadi pelaku terorisme. Masya Allah…

Uniknya lagi, negara dengan penduduk mayoritas Islam ini kini tengah phobia Islam. IRONI. Salah satu buktinya adalah penangkapan teman-teman Jama’ah Tabligh di Purbalingga dan Solo. Hanya karena mereka berjenggot, bersorban, rajin ibadah. Gubrak.

Sebagaimana diketahui, Jama’ah Tabligh hanyalah sekelompok Muslim yang mengajak beribadah ke masjid. Mereka juga rajin menyambangi saudara-saudaranya ke rumah (bertamu) meski tak kenal. Terlepas dari kontroversi ritual khuruj, dinilai dari sisi stabilitas keamanan negara mereka bukanlah ancaman. Dan, memang Islam serta Muslim tidak diajarkan menjadi pengancam lagi teroris.

Sebanyak 17 orang jama’ah mereka ditangkap oleh Polisi. Alasan yang dibuat adalah mereka menyalah gunakan visa kunjungan wisata ke Indonesia. Sejumlah orang tersebut melakukan dakwah ala mereka, yakni khuruj. Sungguh, dalih yang konyol dan dapat dikatakan ‘kemana aje Bung?’. Tak sedikit pula dari kelompok agama yang lainnya berkunjung dengan visa turis juga menyebarkan agama.

Sepertinya, polisi atau pihak terkait perlu ngaji dulu nih. Meski sudah beragama Islam, namun belum tentu toh mengaplikasikan Islam beneran. Pernyataan ini bukan berarti saya lebih benar dari yang sedang saya bicarakan (na’udzubillah dari prasangka yang begini). Tapi, alangkah baiknya kita berpikir dulu sebelum bertindak. Pelajari dan kalau menilai seseorang jangan dari luarnya saja.

Pun, saran deh buat yang berwenang: koordinasi sama pihak terkait, semisal Departemen Agama. Sering bertandang, ngaji kek, silaturahim, minta saran kepada ulama. Biar nggak ada lagi statemen, ‘‘Yang tahu kan Depag. Kami sedang meminta penjelasan, mana ajaran yang boleh dan mana yang tidak boleh.’‘ Kalau nggak tau, kenapa ditangkap? Mana praduga tak bersalahnya?

Segini aja deh. Postingan ini tak bermaksud menyalahkan siapapun. Hanya, harap menjadi masukan bersama bahwa Islam bukanlah ancaman. Pun, Muslim dan Muslimah bukanlah teroris. Bila berbeda penampilan atau pandangan (selama masih dalam koridor perbedaan yang diperbolehkan, baca: ikhtilaf), marilah perkuat baik sangka. Ayo saling menghormati dan singkirkan rasa curiga.

2 responses to this post.

  1. betul, efek perang pemikiran memang luar biasa…salam hangat dari MALANG.

    Balas

  2. Posted by ossmed on April 22, 2010 at 1:52 pm

    assalamualaikum…

    salam kenal nihh
    sedang blogwalking dan ketemu blog menarik ini.. ditunggu kunjungan baliknya di http://www.ossmed.com

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: