Archive for the ‘Mahasiswa’ Category

Teknik Menulis Jurnal

Setelah mengetahui urgensi dan alasan menulis jurnal ilmiah, berminatkah menulis jurnal? Bila ya, ada yang perlu diperhatikan. Menurut situs infosains.com, pada dasarnya menulis jurnal ilmiah adalah sama. Entah itu di jurnal skala nasional, internasional, baik yang terakreditasi, maupun ber ISSN.

‘Sama’, maksudnya memang umumnya tak banyak perbedaan antara satu penyedia layanan publikasi jurnal dengan penyedia lainnya. Bila kita sudah terbiasa menulis artikel ilmiah, tak ada kendala yang berarti (cie..cie…).

Yang menjadikan berbeda, kata infosains.com, adalah aturan spesifik masing-masing penyedia layanan publikasi. Perbedaan ini misalnya format penulisan daftar pustaka, susunan akhir (sebagian format penulisan), dan beberapa lainnya.

Untuk lebih jelasnya, infosain.com telah menyediakan beberapa contoh aturan teknik penulisan jurnal skala nasional. Pembaca dapat mengaksesnya langsung di site penyedia layanan publikasi jurnal langsung atau di infosains.com.

Menulis Jurnal

Bagi insan akademisi dan peneliti, menulis jurnal adalah kebiasaan (apa kebutuhan ya 😀 ). Setidaknya, ada beberapa alasan kenapa seorang menulis jurnal ilmiah:

a. Publikasi hasil penelitian
Penelitian perlu dan harus dipublikasi. Kenapa? Kalau sebuah penelitian tidak dipublikasikan, tak banyak yang tahu mengenai tema yang sedang diteliti bahkan keahlian sang peneliti. So, untuk lebih baiknya, publikasikanlah di media. Hal yang paling umum adalah di jurnal ilmiah.

b. Memperbanyak kredit ‘KUM’
Nah, kalau yang ini biasanya untuk naik pangkat….ninggiin gaji, de el el deh..He..he…Apakah nggak bagus? Bagus. Karena uang yang didapat untuk tujuan mulia, memberikan nafkah anak istri (so sweet n romantis 🙂 ). Baca lebih lanjut

Menanti Pemimpin dari Langit

Menanti Pemimpin dari Langit

pemiraPerhelatan politik kampus semakin memanas. Bergitulah kiranya yang menjadi kesimpulan tentang keadaan dunia pergerakan berbasis moral intelektual ini. Pasalnya, estafet kepemimpinan keorganisasian mahasiswa tengah terjadi di kampus yang mengabdikan diri di bidang pertanian. Pertarungan kepentingan, kebutuhan, dan ideologi menjadi sengit karena kontestan kali ini terdiri dari berbagai warna yang menyusun pelangi kampus. Apabila dicermati dari kampanye-kampanye yang tengah beredar di sekitar kita, terdapat banyak kemajuan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Walaupun tak semarak ketika era pergerakan mahasiswa mencapai tonggak pada tahun 1998, intrik politik yang merebak dan pestapora sisi lain dunia kampus saat ini cenderung meriah. Peminat dunia kelembagaan mahasiswa dapat dikatakan meningkat dengan parameter banyaknya kontestan yang mendaftar sebagai calon pemimpin kampus. Dengan latar belakang organisasi, ideologi, dan kepentingan yang berbeda para calon pemegang kebijakan dunia kemahasiswaan kampus hijau ini berjibaku menarik simpati mahasiswa lainnya. Perang slogan, janji, dan komitmen terhadap pemilih menjadi andalan para calon presma-wapresma meraih kemenangan. Baca lebih lanjut

Video Kekerasan di STIP

Akhirnya, beredar juga video mengenai kekerasan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Sebenarnya, tidak dipungkiri memang sudah lama kekerasan semacam ini terjadi di dunia pendidikan apalagi setingkat sekolah yang semimiliter seperti STIP dan STPDN.

Menyusul STPDN, STIP pun menyusul video panas kekerasan yang terjadi karena adanya gap senior dan junior. Senior yang merasa sudah establish sebagai praja, sudah berpengalaman, seakan ingin memberikan pelajaran berharga kepada juniornya. Pelajaran yang membekas bagi para junior: beginilah arti disiplin versi kami.


Siapa yang salah? Siapa yang tidak benar pasti salah. Ha..ha..ha…

Saatnya Berlari…

“Wahai rekan-rekan mahasiswa, sekarang adalah saatnya mahasiswa bergerak! Bergerak menuntut pemerintah agar…”

Sepertinya, kalimat di atas ataupun yang senada tidak asing lagi terdengar di telinga kita apalagi yang masih berstatus mahasiswa. BERGERAK. Satu kata yang mudah, namun padat akan makna. Pesan tersirat dari kata tersebut adalah mahasiswa tidak lagi diam melihat segala kesemrawutan politik, keterpurukan ekonomi, kebobrokan moral, sampai penghianatan terhadap konstituen bangsa ini: rakyat. Baca lebih lanjut

Mahasiswa dan Kebangkitan Nasional

Mulat sarira angrasa wani, rumangsa melu andarbeni, wajib melu angrukebi – “berani mawas diri, merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaga”.

Pangeran Mangkunagara III

Kebangkitan nasional telah satu abad bergulir (?). Kajian positif mengenai hal ini adalah perubahan dari berbagai segi kehidupan. Dalam urusan berbangsa dan bernegara, kebangkitan nasional menjadi poin penting titik tolak kemerdekaan. Mulai satu abad yang lalu (?), beberapa pemuda generasi terbaik bangsa ini mencoba bangkit untuk memperbaiki negeri yang telah berabad-abad terjajah. Bangsa ini membutuhkan terobosan baru untuk keluar dari lubang kumuh kolonial. Berawal dari pendidikan, perjuangan itu muncul menstimulasi lahirnya peradaban. Pergerakan yang dimotori oleh segolongan kaum intelektual tersebut merambah ke ranah yang lebih menantang, ranah politik. Baca lebih lanjut

TUGU RAKYAT

TUGU RAKYAT (TUJUH GUGATAN RAKYAT)
  1. Nasionalisasi aset strategis bangsa.
  2. Wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
  3. Tuntaskan kasus BLBI & korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya sebagai perwujudan kepastian hukum di Indonesia.
  4. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi dan energi.
  5. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat.
  6. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan.
  7. Selamatkan lingkungan Indonesia dan tuntut Lapindo Brantas untuk mengganti rugi seluruh dampak dari lumpur Lapindo.