Posts Tagged ‘cinta’

Bangsa Pengemis

Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis,
Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Masa Penjajahan Baru,
Kata Si Toni
(Karya Taufik Ismail)

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa, dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan rama-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak digerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama Baca lebih lanjut

Saudaraku, Bersabarlah

Rasa memang unik. Tak dapat orang menerka, meski seribu tanya bergelayut menjadi kata. Adalah mungkin, sebuah prediksi dari himpunan cerita tentang masa depan diejawantahkan secara gamblang. Namun, bukankah ini hanya keinginan? Tiadakah ingat ikhtiar selalu beriring keputusan dari-Nya?

Ketika wajah cahaya kebenaran menyingsing, kuingat engkau merenda asa dan menyimpan rapi hasilnya. Kau tutup rapat, kendati sesekali mengintip tenunan elok kata hati. Baca lebih lanjut

Puisi Pemilu: mencintai, dengan pilihanmu

aku ingin mencintaimu
dengan cinta yang sederhana
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu
dengan cinta yang sederhana
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
[1]

hanya butuh beberapa menit. tak butuh satu jam. namun, derita yang kan ditanggung dapat berbilang tahunan.

hanya satu hari. tak butuh satu bulan. namun, haruslah pasti pilihan itu pada kebenaran.

bila cinta memang buta, kenapa harus banyak yang menderita. butakah pilihan yang salah? tidak. tiada kata itu akan berulang. tiada kejadian yang akan mempersalahkan. kita hanya butuh satu tindakan: pilih yang berafiliasi kebenaran. Baca lebih lanjut

Prosa Demokrasi: Belum Ada Judul

Belum Ada Judul [1]
;prosa harapan bagi pemimpin masa depan

Pemilu 2009 sebentar lagi. Hingar bingar dan riuh gemuruh kampanye tlah berhenti. Itu kasat mata. Namun, entah di mana tempat tetap ada yang menyelinap. Ia mengendap dan sesekali muncul di tengah senyap.

Inilah kisah di negeri entah. Di mana janji bertebaran semasa dua puluh satu hari. Tak dipungkiri, cara dekil dan hina ditempuh demi massa. Konstituen yang bahagia tak lebih satu bulan saja, namun menderita hampir lima tahun lamanya. Benar atau tidak, itulah keluhan yang ada. Baca lebih lanjut

Indahnya Kemiskinan

“Kamu pinjam beras ke Bulek Budi dua kilo nak!” Begitu perintah Ibu yang hampir setiap pekan keempat setiap bulan saya dengar. Jatah beras yang diterima Bapak setiap tanggal 10 tidak cukup untuk menghidupi tujuh orang anaknya. Bulek Budi, tetangga sekitar 50 meter dari rumah kami adalah salah satu ‘langganan’, tempat kami meminjam beras. Pak Budi memang satu kantor dengan Bapak kami. Bedanya Pak Budi secara ekonomi kondisinya jauh lebih baik daripada kami. Saya sendiri, sebenarnya terlalu dini untuk mengetahui urusan perekonomian orangtua. Yang saya mengerti satu, bahwa jika Ibu menyuruh saya untuk pergi ke Bulek Budi, berarti ‘gentong’ tempat Ibu menyimpan beras sudah kosong. Baca lebih lanjut

Tentang Cinta Manusia

hati-tebar-senyumCinta

Cinta memang unik. Ia tak memiliki dimensi waktu. Tak pula ruang. Ia adalah rasa. Perasaan bahwa terperhatikan. Pun memperhatikan. Atas dasar cinta, kasih sayang kian tumbuh. Ia gagah perkasa di bawah naungan keikhlasan.

Cinta adalah ruh. Ruh untuk berbagi. Menerima tanpa harus diberi. Dengan cinta, laku kadang tak patut pada tempatnya. Ia menggeser jengkal amarah. Ia pun mampu memupuk pasrah.

cinta-cinta.

Asa di Tanah Kelahiran

Asa di Tanah Kelahiran

di sana, aku terlahir
dalam tangis bahagia sang pecinta

di sana, aku dinanti
dalam haru dan harap sang pemimpi

ayah, aku pulang dengan cinta
membawa harap bertabur asa

namun,
tak kan lama aku berdiri
bercerita tentang masa terharap

keringat itu telah menanti
dalam do’a dan nasihatmu
kan kuwujudkan citamu

ayah, ibu, nenek, kakek
dan orang yang setia menanti kemenangan ini
do’a kan selalu kuharap
menemani keringat dan sujud menyatakan cita

23 Juni 2008