Posts Tagged ‘IPB’

Bangsa Pengemis

Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis,
Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Masa Penjajahan Baru,
Kata Si Toni
(Karya Taufik Ismail)

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa, dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan rama-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak digerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama Baca lebih lanjut

Cara Membedakan Daging Babi dan Daging Sapi

Masih terkait berita pencampuran daging sapi dengan daging babi, sekarang ceritanya mau membahas bagaimana cara membedakan daging tersebut secara laboratorium (halah,bahasanya nggak pas nih).

Cara laboratorium untuk membedakan kedua daging tersebut tidak banyak diketahui orang. Namun, ada informasi sedikit dari dosen sewaktu kuliah S1 di Biokimia IPB agaknya cukup membantu. Oh ya, dosen kuliah saya kebanyakan ‘nyambi’ menjadi auditor atau pengurus LPPOM MUI Pusat. Baca lebih lanjut

Pejuang Jamblang: Kemana hendak melangkah?

Orang sunda memang unik. Hal ini dapat dilihat, salah satunya dari nama yang sering diulang. Contoh saja, teman satu kos saya: Ikin Sodikin. Ha..ha…kenapa namanya nggak Sodikin atau Ahmad Shodiqin, atau apalah.
ikin
Teman saya yang satu ini kuliah di Departemen Statistika, satu kampus dengan saya. Alhamdulillah, beberapa minggu kemarin ia baru saja ujian sidang (Baarokallah saudaraku). Ada satu hal yang membuat saya tertarik menceritakan tentangnya. Ikin yang saya kenal adalah seorang yang rajin, tekun, dan ulet (bedanya apa ya? whatever lah).
Baca lebih lanjut

Hadim: Sisi Aktivis Sejati

hadim2
Hadim dilahirkan di Lampung, sebuah daerah masyhur transmigrasi di bagian Pulau Sumatera. Saya kenal Hadim saat bersama dalam satu kepanitiaan acara penyambutan mahasiswa baru di kampus. Hadim yang saya kenal, adalah seorang teguh dengan segala keterbatasan.

Saya lupa berapa jumlah tepat saudaranya. Namun, yang saya tahu ia dilahirkan sebagai anak seorang biasa. Bersama dengan kakaknya, kini ia tinggal di Bogor. Saya pernah berbincang dengan Hadim. Ia menceritakan tentang keluarga dan dirinya. Sejak kecil, orang tuanya sudah meninggal dunia. Sejak SD sampai SMA, ia disekolahkan oleh tetangga dan atau orang yang dermawan mau membantunya. Tidak sama dengan anak-anak seusianya, Hadim besar tanpa kasih sayang orang tua, kemegahan tempat tinggal dan pemenuh perut maupun dahaga. Dengan bekal shaum daud dan kezuhudan, seorang Hadim meretas jalan menuju surga Allah SWT. Baca lebih lanjut

Menanti Pemimpin dari Langit

Menanti Pemimpin dari Langit

pemiraPerhelatan politik kampus semakin memanas. Bergitulah kiranya yang menjadi kesimpulan tentang keadaan dunia pergerakan berbasis moral intelektual ini. Pasalnya, estafet kepemimpinan keorganisasian mahasiswa tengah terjadi di kampus yang mengabdikan diri di bidang pertanian. Pertarungan kepentingan, kebutuhan, dan ideologi menjadi sengit karena kontestan kali ini terdiri dari berbagai warna yang menyusun pelangi kampus. Apabila dicermati dari kampanye-kampanye yang tengah beredar di sekitar kita, terdapat banyak kemajuan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Walaupun tak semarak ketika era pergerakan mahasiswa mencapai tonggak pada tahun 1998, intrik politik yang merebak dan pestapora sisi lain dunia kampus saat ini cenderung meriah. Peminat dunia kelembagaan mahasiswa dapat dikatakan meningkat dengan parameter banyaknya kontestan yang mendaftar sebagai calon pemimpin kampus. Dengan latar belakang organisasi, ideologi, dan kepentingan yang berbeda para calon pemegang kebijakan dunia kemahasiswaan kampus hijau ini berjibaku menarik simpati mahasiswa lainnya. Perang slogan, janji, dan komitmen terhadap pemilih menjadi andalan para calon presma-wapresma meraih kemenangan. Baca lebih lanjut

Wisuda IPB 2008

Alhamdulillah, setelah dikejar-kejar dosen suruh lulus akhirnya tadi pagi jadi juga daftar wisuda IPB tahap I tahun 2008. Hmm, ya mungkin ini menjadi alasan saya akhir-akhir ini jarang isi blog. Sebenarnya bukan vakum. Saya sering cek blog, sekedar ada yang perlu dimoderasi atau tidak. Tapi, pengunjung yang datang maybe just walking-walking aja.

Oh ya, berkaitan dengan kelulusan di IPB…ada cerita konyol? Saya diprediksikan dosen untuk lulus cepat (Ha..ha..nggak sombong lho). Waktu itu, saya sudah penelitian di tingkat III. Tapi, saya bertekad walaupun penelitian awal aktivitas saya yang lain tidak boleh terganggu. Alhamdulillah, amanah-amanah yang ada tidak banyak terganggu. Saya teringat, menjelang akhir 2007 dosen bilang: kamu lulus februari 2008 saja ya? “Ha..??? Nggak deh, Bu. Nanti saja”, tolakku dengan halus. Saya pikir masa itu belum tepat bagi saya untuk lulus. Saya belum ‘merasakan’ sebagai mahasiswa. Pengalaman belum banyak. Dan terlebih, saya masih ada amanah di kampus. “Mungkin Juni saja kalau begitu”, lanjut dosen pembimbing. “Hmm, mudah-mudahan”. Baca lebih lanjut