Ironi, Mayoritas Muslim Tapi Phobia Islam

Noordin M Top, Syaefudin Jaelani, dan sederet nama lain tengah menjadi buronan polisi. Pascaledakan Marriot 2009, Islam kembali tertuduh. Meski memang tak menuding Islam secara langsung, namun efeknya sangat terasa bagi sebagian besar Muslim yang ingin mengaplikasikan Islam secara menyeluruh.

Stigmatisasi Islam garis keras, kini kian marak walaupun belum jelas apa definisi Islam garis keras. Tak ayal, beberapa organisasi Islam dituduh sebagai sarang teroris. Bahkan, sekaliber ulama dunia yang tak ada sangkut pautnya dengan pengeboman pun dituduh menginspirasi oknum yang menjadi pelaku terorisme. Masya Allah… Lanjutkan membaca

Antara Noordin M Top, Terorisme, dan Islam?

Akhir-akhir ini terorisme muncul kembali. Bahkan munculnya isu tersebut tak sekencang berita datangnya bulan penuh berkah, Ramadhan. Terorisme, suka tidak suka, percaya ataupun tidak berita yang seolah media massa memanfaatkannya untuk meraih rating (daripada memberikan informasi yang aktual, berbobot, adil, dan mendidik). Tak dapat sepenuhnya disalahkan, toh mereka ‘hidup’ karena rating (gila tuh pendapatnya, he…he..). Klo nggak ada iklan, pasti nggak digaji kayaknya…(meski ada sih jurnalis atau sisi berita lain yang seimbang).

In other side, media massa ikut mempengaruhi opini publik dalam menilai Islam. Meski Islam tidak identik dengan teroris, tapi berita yang ada (memang) menyudutkan. Lalu, muncullah stigmatisasi terhadap Islam dan orang-orang yang berusaha mengaplikasikan Islam secara menyeluruh. Tak hanya lips service bahkan KTP saja. Orang berjilbab lebar, bercadar, berjenggot, kening hitam, dan celana ngatung dilabel teroris. Aduuh…kasihan para pendengki. Hanya dunia saja yang akan mereka raih. Sedang akhirat yang lebih kekal tak dihiraukn.

Meski banyak dari mereka (yang sekarang malah dicurigai) tak terlibat dalam perbuatan tersebut. Hanya karena pakaian sama; mereka juga ‘dihukumi’ sama.

Masya Allah. Zaman memang sudah aneh, orang menilai muslim dan muslimah yang menegakkan sunnah dianggap teroris. Duhai muslim…sadarlah…Islam tak membenarkan terorisme. Meski ada sebagian kecil yang berulah seperti itu (meneror?), tidaklah patut menilai Islam dengan melihat sekilas itu.

Mau tau Islam? Beginilah sebaiknya…

Teknik Menulis Jurnal

Setelah mengetahui urgensi dan alasan menulis jurnal ilmiah, berminatkah menulis jurnal? Bila ya, ada yang perlu diperhatikan. Menurut situs infosains.com, pada dasarnya menulis jurnal ilmiah adalah sama. Entah itu di jurnal skala nasional, internasional, baik yang terakreditasi, maupun ber ISSN.

‘Sama’, maksudnya memang umumnya tak banyak perbedaan antara satu penyedia layanan publikasi jurnal dengan penyedia lainnya. Bila kita sudah terbiasa menulis artikel ilmiah, tak ada kendala yang berarti (cie..cie…).

Yang menjadikan berbeda, kata infosains.com, adalah aturan spesifik masing-masing penyedia layanan publikasi. Perbedaan ini misalnya format penulisan daftar pustaka, susunan akhir (sebagian format penulisan), dan beberapa lainnya.

Untuk lebih jelasnya, infosain.com telah menyediakan beberapa contoh aturan teknik penulisan jurnal skala nasional. Pembaca dapat mengaksesnya langsung di site penyedia layanan publikasi jurnal langsung atau di infosains.com.

Menulis Jurnal

Bagi insan akademisi dan peneliti, menulis jurnal adalah kebiasaan (apa kebutuhan ya😀 ). Setidaknya, ada beberapa alasan kenapa seorang menulis jurnal ilmiah:

a. Publikasi hasil penelitian
Penelitian perlu dan harus dipublikasi. Kenapa? Kalau sebuah penelitian tidak dipublikasikan, tak banyak yang tahu mengenai tema yang sedang diteliti bahkan keahlian sang peneliti. So, untuk lebih baiknya, publikasikanlah di media. Hal yang paling umum adalah di jurnal ilmiah.

b. Memperbanyak kredit ‘KUM’
Nah, kalau yang ini biasanya untuk naik pangkat….ninggiin gaji, de el el deh..He..he…Apakah nggak bagus? Bagus. Karena uang yang didapat untuk tujuan mulia, memberikan nafkah anak istri (so sweet n romantis🙂 ). Lanjutkan membaca

Bangsa Pengemis

Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis,
Lalu Kalian Paksa Kami Masuk Masa Penjajahan Baru,
Kata Si Toni
(Karya Taufik Ismail)

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa, dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan rama-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak digerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama Lanjutkan membaca

Membaca, Siapa Takut?

Membaca. Sebuah kata yang terdengar ringan, baik sekedar melafalkan bahkan melakukan. Melafalkan hanya butuh kemampuan aksara, sedangkan melakukannya hanya perlu tambahan mata.

Sepertinya semua sepakat bila membaca adalah cara cerdas menimba ilmu. Meskipun menghadiri tempat pendidikan (sekolah, perguruan tinggi, majlis ilmu, atau sejenisnya), tetap saja membaca adalah syarat terbukanya hikmah. Bahkan, membaca adalah satu-satunya cara murah dan mudah memelihara pengetahuan dan menguak pintu kepahaman. Lanjutkan membaca

Saudaraku, Bersabarlah

Rasa memang unik. Tak dapat orang menerka, meski seribu tanya bergelayut menjadi kata. Adalah mungkin, sebuah prediksi dari himpunan cerita tentang masa depan diejawantahkan secara gamblang. Namun, bukankah ini hanya keinginan? Tiadakah ingat ikhtiar selalu beriring keputusan dari-Nya?

Ketika wajah cahaya kebenaran menyingsing, kuingat engkau merenda asa dan menyimpan rapi hasilnya. Kau tutup rapat, kendati sesekali mengintip tenunan elok kata hati. Lanjutkan membaca